1) Nabi Muhammad SAW bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah SWT. Dan tunduk serta taat kepada pemimpin sekalipun dia seorang hamba sahaya dari bangsa Habasyi. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup dari kalian setelah aku nanti maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka ladzimkan atas kalian dengan berpegangan kepada sunnahku dan sunnahnya khulafaurrosyidin. Peganglah syareat mereka dan gigitlah dengan gigi graham. Awas kalian terhadap perkara-perkara baru sebab sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.”
2) Dari Umar ra. dalam hadits marfu’ “aku bertanya kepada Tuhanku tentang perselisihan diantara sahabat-sahabatku setelah aku nanti, aku diberi wahyu, “Wahai Muhammad sesungguhnya para sahabatmu disisi – Ku seperti bintang-bintang dilangit sebagiannya lebih kuat dari sebagian yang lain, dan setiap satu dari mereka adalah cahaya, barang siapa mengambil sesuatu yang ada pada mereka dari perselisihan mereka maka hal itu disisi-Ku adalah diatas petunjuk.” Dan Nabi SAW bersabda “para sahabatku laksana bintang-bintang, dimana saja diantara mereka engkau mengambil petunjuk, maka kalian akan mendapat petunjuk.”
(HR. Rozin)
3) Dari Khudaifah dalam hadits marfu’ Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya aku tidak tahu hitungan sisa hidupku diantara kalian, maka hendaklah kalian mengikuti dengan orang-orang setelah aku dan Nabi SAW memberi isyarat kepada Abu Bakar ra dan Umar ra.” (HR. Tirmidzi – kitab Hayatus Shohabah hal. 6 juz 1)
4) Urwah bin Mas’ud bertanya kepada sahabat-sahabatnya seraya berkata : “Wahai kaumku. Demi Allah! Sungguh aku telah datang sebagai utusan kepada raja-raja, dan aku telah datang kepada kaisar dan Qisroh, serta raja Najasyi. Demi Allah! Tidaklah aku melihat ada raja yang diagungkan oleh para sahabatnya sebagaimana para sahabat Nabi SAW mengagungkan beliau SAW. Demi Allah! Tidaklah Nabi mengeluarkan dahak kecuali dahak tersebut jatuh ditelapak tangan seseorang diantara mereka, maka orang tersebut menggosok-gosokkan dahak tersebut kewajah dan kulitnya. Apabila Nabi SAW memerintahkan mereka maka menyegerakan perintah tersebut, dan apabila wudlu maka hamper-hampir mereka saling baku hantam memperebutkan sisa air wudlu Nabi SAW. Apabila Nabi berbicara maka mereka merendahkan suaranya disisi Nabi SAW, mereka tidak berani memelototkan pandangannya karena mengagungkan kepada Nabi SAW dan sesungguhnya Nabi SAW telah membentangkan atas kalian garis-garis petunjuk maka terimalah pentunjuk tersebut. (Hayatus Shohabat hal. 153, juz 1)
Konon menurut cerita orang-orang tua,bahwa Masjid Agung Bangil adalah sebuah masjid Tiban(tiba-tiba muncul)dengan ukuran 22m x 22m. dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dan ada 4 tiang penyangga utama yang kenal sebagai soko wolu . Menurut artifak yang ada di mihrob,tertulis tahun 1287 H
Selasa, 19 Oktober 2010
Selasa, 12 Oktober 2010
KEHIDUPAN PARA SAHABAT
3 Dzulqo’dah 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
12 Oktober 2010 M
1) Allah SWT berfirman : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir(dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (AL Fath – ayat 29)
2. Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau adalah utusan Allah, dengan benar tanpa ada keraguan.
3. (dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka) sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Maidah ayat 54 “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”
4. Inilah sifat orang mukmin yang mana satu diantara mereka adalah sangat keras dan kejam terhadap orang-orang kafir. Mereka saling kasih sayang, saling berbuat baik dengan sesama orang mukmin yang lain. Mereka sangat murka dan bermuka masam dalam menghadapi orang-orang kafir. Mereka murah senyum kepada saudaranya sesama orang-orang mukmin.
5. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Perumpamaan orang-orang sesama mukmin dalam kasih sayang itu seperti anggota tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh dari mereka mengeluh maka tubuh yang lainnya ikut meresakan sakit panas dan tidak bisa tidur.
6. Nabi Muhammad ASW bersabda : “Perumpamaan bagi mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu diantara lainnya.”
7. Allah SWT berfirman : “{Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya} yaitu anak tumbuh-tumbuhan), maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat {lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya} yaitu demikianlah para Sahabat Rasulullah SAW mereka menolong, membantu Nabi Muhammad SAW, maka mereka berserta Nabi seperti anak-anak tumbuhan besarta tumbuhannya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).”
8. Dari ayat ini Imam Malik ra, menetapkan bahwa orang-orang Rofidhoh adalah kafir yang mana mereka selalu membenci para sahabat Nabi SAW. Imam Malik berkata “karena sesungguhnya orang-orang Rofidhoh selalu membenci para sahabat Nabi, dan barangsiapa yang membenci sahabat Nabi maka dia kafir dengan ayat tersebut.”
(Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hal. 205)
12 Oktober 2010 M
1) Allah SWT berfirman : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir(dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (AL Fath – ayat 29)
2. Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau adalah utusan Allah, dengan benar tanpa ada keraguan.
3. (dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka) sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Maidah ayat 54 “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”
4. Inilah sifat orang mukmin yang mana satu diantara mereka adalah sangat keras dan kejam terhadap orang-orang kafir. Mereka saling kasih sayang, saling berbuat baik dengan sesama orang mukmin yang lain. Mereka sangat murka dan bermuka masam dalam menghadapi orang-orang kafir. Mereka murah senyum kepada saudaranya sesama orang-orang mukmin.
5. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Perumpamaan orang-orang sesama mukmin dalam kasih sayang itu seperti anggota tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh dari mereka mengeluh maka tubuh yang lainnya ikut meresakan sakit panas dan tidak bisa tidur.
6. Nabi Muhammad ASW bersabda : “Perumpamaan bagi mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu diantara lainnya.”
7. Allah SWT berfirman : “{Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya} yaitu anak tumbuh-tumbuhan), maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat {lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya} yaitu demikianlah para Sahabat Rasulullah SAW mereka menolong, membantu Nabi Muhammad SAW, maka mereka berserta Nabi seperti anak-anak tumbuhan besarta tumbuhannya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).”
8. Dari ayat ini Imam Malik ra, menetapkan bahwa orang-orang Rofidhoh adalah kafir yang mana mereka selalu membenci para sahabat Nabi SAW. Imam Malik berkata “karena sesungguhnya orang-orang Rofidhoh selalu membenci para sahabat Nabi, dan barangsiapa yang membenci sahabat Nabi maka dia kafir dengan ayat tersebut.”
(Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hal. 205)
Rabu, 21 Juli 2010
Puasa Romadhon
8 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
19 JuLi 2010 M
“BULAN ROMADHON”
1) Rasulullah SAW bersabda : “Apabila pada awal bulan Romadhon, maka setan dan Jin di belenggu, pintu-pintu neraka ditutup, maka tidak dibuka satu pintupun dari pintu-pintu neraka, dan pintu-pintu surga dibuka serta tidak ada satu pintu surga yang ditutup. Seorang malaikat berseru “Wahai orang-orang yang mencari kebaikan menghadaplah. Wahai orang yang mencari kejahatan berhentilah dan bagi Allah SWT ada orang-orang yang akan dibebaskan dari api neraka. Hal demikian ini terjadi setiap malam hari.”
Dikatakan bahwasanya hikmah dari terbelenggunya setan-setan agar mereka tidak menggoda orang-orang yang berpuasa dan tanda-tanda tersebut adalah kebanyakan dari orang-orang yang terjerumus dalam perbuatan maksiat bisa terhindar dan mereka kembali bertaubat kepada Allah SWT.
Adapun kejadian menyalahi keadaan diatas pada sebagian orang, maka sesungguhnya hal tersebut merupakan pengaruh dari bujukan setan yang merasuk dalam dasar nafsu yang jahat dan mengendap dalam pokok nafsu orang tersebut.
(Wahai orang yang mencari kejahatan berhentilah) yaitu orang yang menghendaki kemaksiatan bertahanlah dari kemaksiatan dan kembalilah kepada Allah, karena bulan Romadhon ini saat diterimanya taubat dan waktu untuk meminta ampunan. (Tuhfatul Akhwadzi Sarah Tirmidzi juz 3, hal. 359)
2) Sesungguhnya Islam menetapkan bahwa perut merupakan tempat penyakit dan sesungguhnya berlebihan dalam makanan bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak baik dan sesungguhnya sebaik-baik orang adalah mengambil makanan dan minuman dengan secukupnya. Hal ini telah disabdakan oleh Rasulullah SAW “Kami adalah kaum yang tidak makan sampai lapar, apabila telah tiba waktunya makan maka kami makan tidak sampai kenyang.” Kebanyakan perkara yang menjadikan banyak makan sebagaimana dilakukan kebanyakan orang-orang sampai menjadi gemuk badannya, hal ini akan membebani dan menyakiti diri sendiri. Maka datang perintah puasa yang akan bisa menyelamatkan manusia dari berlebihan dalam makan, sehingga puasa akan menyeimbangkan kesehatan dan mengokohkan badan manusia. Para dokter menyarankan berpuasa pada keadaan sakit untuk pengobatan dan untuk mencapai kesehatan juga keselamatan.
3) Dalam falsafah puasa adalah belajar bersabar dan menguatkan kehendak yang mana dia terkadang melihat macam-macam makanan disamping kiri kanan padahal dia mampu untuk menjulurkan tangannya memakan apa yang disukai dan dikehendaki akan tetapi dia menahan nafsu dalam memilih dan menghendaki makanan tersebut, karena dia taat kepada Tuhannya dan merasa diawasi oleh – Nya
(Kitab Yas Alunaka Juz 1, hal. 128)
19 JuLi 2010 M
“BULAN ROMADHON”
1) Rasulullah SAW bersabda : “Apabila pada awal bulan Romadhon, maka setan dan Jin di belenggu, pintu-pintu neraka ditutup, maka tidak dibuka satu pintupun dari pintu-pintu neraka, dan pintu-pintu surga dibuka serta tidak ada satu pintu surga yang ditutup. Seorang malaikat berseru “Wahai orang-orang yang mencari kebaikan menghadaplah. Wahai orang yang mencari kejahatan berhentilah dan bagi Allah SWT ada orang-orang yang akan dibebaskan dari api neraka. Hal demikian ini terjadi setiap malam hari.”
Dikatakan bahwasanya hikmah dari terbelenggunya setan-setan agar mereka tidak menggoda orang-orang yang berpuasa dan tanda-tanda tersebut adalah kebanyakan dari orang-orang yang terjerumus dalam perbuatan maksiat bisa terhindar dan mereka kembali bertaubat kepada Allah SWT.
Adapun kejadian menyalahi keadaan diatas pada sebagian orang, maka sesungguhnya hal tersebut merupakan pengaruh dari bujukan setan yang merasuk dalam dasar nafsu yang jahat dan mengendap dalam pokok nafsu orang tersebut.
(Wahai orang yang mencari kejahatan berhentilah) yaitu orang yang menghendaki kemaksiatan bertahanlah dari kemaksiatan dan kembalilah kepada Allah, karena bulan Romadhon ini saat diterimanya taubat dan waktu untuk meminta ampunan. (Tuhfatul Akhwadzi Sarah Tirmidzi juz 3, hal. 359)
2) Sesungguhnya Islam menetapkan bahwa perut merupakan tempat penyakit dan sesungguhnya berlebihan dalam makanan bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak baik dan sesungguhnya sebaik-baik orang adalah mengambil makanan dan minuman dengan secukupnya. Hal ini telah disabdakan oleh Rasulullah SAW “Kami adalah kaum yang tidak makan sampai lapar, apabila telah tiba waktunya makan maka kami makan tidak sampai kenyang.” Kebanyakan perkara yang menjadikan banyak makan sebagaimana dilakukan kebanyakan orang-orang sampai menjadi gemuk badannya, hal ini akan membebani dan menyakiti diri sendiri. Maka datang perintah puasa yang akan bisa menyelamatkan manusia dari berlebihan dalam makan, sehingga puasa akan menyeimbangkan kesehatan dan mengokohkan badan manusia. Para dokter menyarankan berpuasa pada keadaan sakit untuk pengobatan dan untuk mencapai kesehatan juga keselamatan.
3) Dalam falsafah puasa adalah belajar bersabar dan menguatkan kehendak yang mana dia terkadang melihat macam-macam makanan disamping kiri kanan padahal dia mampu untuk menjulurkan tangannya memakan apa yang disukai dan dikehendaki akan tetapi dia menahan nafsu dalam memilih dan menghendaki makanan tersebut, karena dia taat kepada Tuhannya dan merasa diawasi oleh – Nya
(Kitab Yas Alunaka Juz 1, hal. 128)
Minggu, 04 Juli 2010
Syadina Ali bin Abi Tholib ra
9 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
22 Juni 2010 M
“SYAIDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1) Syaidina Ali ra berkata, “Aku bertanya tentang tanda-tanda kaum Rofidhoh”, dan Nabi Muhammad SAW bersabda “mereka yang mang-agung-kan dengan menyebut cinta kepada Ahlul Bait padahal bukanlah demikian dan tanda-tandanya adalah sesungguhnya mereka mencaci maki Abu Bakar ra dan Umar ra.”
2) Dari Syaidina Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW berkata “Hai Ali! Sesungguhnya engkau kelak disurga, Hai Ali! Sesungguhnya engkau kelak disurga, Hai Ali! Sesungguhnya engkau kelak disurga, akan datang suatu kaum yang disebut Rofidhoh (Syi’ah) maka apabila engkau menjumpai mereka, maka perangilah mereka.” Syaidina Ali ra bertanya “Wahai Nabi! Apa tanda-tanda mereka?”, Nabi SAW menjawab “Mereka tidak mengikuti jama’ah dan sholat Jum’at serta mereka mencaki maki Abu Bakar ra dan Umar ra.”
3) Syech Ibnu Hajar dalam kitab Zawajir tentang melakukan dosa besar, Imam Sya’bi berkata “Yahudi dan Nasroni mempunyai keistimewaan dalam 2 perkara yaitu pertama apabila mereka (Yahudi) ditanya, siapa sebaik-baik orang yang mengikuti agama kalian?, maka mereka (orang-orang yahudi) berkata “mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Musa as.” Begitu juga dengan kaum Nasroni apabila mereka ditanya, Siapa sebaik-baik orang yang mengikuti agama kalian? Maka mereka (orang-orang Nasroni) menjawab “mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Isa as, Apabila orang-orang rofidhoh (Syi’ah) ditanya, Siapa orang yang paling jahat dari pengikut agama kalian? Maka mereka (orang-orang Syi’ah) menjawab “mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.” Perkara yang kedua yaitu : Bahwasanya kaum Yahudi dan Nasroni meminta ampun atas orang-orang yang mendahului mereka dan orang-orang Rofidhoh (Syi’ah) diperintahkan untuk meminta ampun bagi sahabat-sahabat Nabi SAW akan tetapi mereka mencaci maki para sahabat-sahabat Nabi SAW. Dengan demikian dikatakan bahwasanya orang-orang Rofidhoh (Syi’ah) lebih keji dan lebih jahat dari pada orang-orang Yahudi dan Nasroni. (Kitab : Roo Atul Ghomidoh hal. 32)
22 Juni 2010 M
“SYAIDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1) Syaidina Ali ra berkata, “Aku bertanya tentang tanda-tanda kaum Rofidhoh”, dan Nabi Muhammad SAW bersabda “mereka yang mang-agung-kan dengan menyebut cinta kepada Ahlul Bait padahal bukanlah demikian dan tanda-tandanya adalah sesungguhnya mereka mencaci maki Abu Bakar ra dan Umar ra.”
2) Dari Syaidina Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW berkata “Hai Ali! Sesungguhnya engkau kelak disurga, Hai Ali! Sesungguhnya engkau kelak disurga, Hai Ali! Sesungguhnya engkau kelak disurga, akan datang suatu kaum yang disebut Rofidhoh (Syi’ah) maka apabila engkau menjumpai mereka, maka perangilah mereka.” Syaidina Ali ra bertanya “Wahai Nabi! Apa tanda-tanda mereka?”, Nabi SAW menjawab “Mereka tidak mengikuti jama’ah dan sholat Jum’at serta mereka mencaki maki Abu Bakar ra dan Umar ra.”
3) Syech Ibnu Hajar dalam kitab Zawajir tentang melakukan dosa besar, Imam Sya’bi berkata “Yahudi dan Nasroni mempunyai keistimewaan dalam 2 perkara yaitu pertama apabila mereka (Yahudi) ditanya, siapa sebaik-baik orang yang mengikuti agama kalian?, maka mereka (orang-orang yahudi) berkata “mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Musa as.” Begitu juga dengan kaum Nasroni apabila mereka ditanya, Siapa sebaik-baik orang yang mengikuti agama kalian? Maka mereka (orang-orang Nasroni) menjawab “mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Isa as, Apabila orang-orang rofidhoh (Syi’ah) ditanya, Siapa orang yang paling jahat dari pengikut agama kalian? Maka mereka (orang-orang Syi’ah) menjawab “mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.” Perkara yang kedua yaitu : Bahwasanya kaum Yahudi dan Nasroni meminta ampun atas orang-orang yang mendahului mereka dan orang-orang Rofidhoh (Syi’ah) diperintahkan untuk meminta ampun bagi sahabat-sahabat Nabi SAW akan tetapi mereka mencaci maki para sahabat-sahabat Nabi SAW. Dengan demikian dikatakan bahwasanya orang-orang Rofidhoh (Syi’ah) lebih keji dan lebih jahat dari pada orang-orang Yahudi dan Nasroni. (Kitab : Roo Atul Ghomidoh hal. 32)
Kamis, 17 Juni 2010
Sayydina Ali ra.
2 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
15 Juni 2010 M
“SYAIDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1) Rasulullah SAW bersabda “Ketika Allah menurunkan ayat {Peringkatkan keluarga mu}. Wahai orang-orang Qurais! Belilah jiwa mu! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. Wahai bani Abdul Manaf! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT, wahai Abbas bin Abdil Mutholib! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. Wahai Shofia! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. Wahai Fatimah anak Muhammad mintalah engkau dari hartaku sekehendakmu, Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. (HR. Bukhori)
2) Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan atas suatu peringatan untuk sekalian manusia bukan kepada ayat ini saja. Allah SWT berfirman {Wahai orang yang berselimut bangunlah, dan berilah peringatan}. Kemudian Allah SWT memerintahkan akan peringatan secara umum setelah peringatan kepada keluarga secara khusus. Allah SWT berfirman {Barangsiapa memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul – Nya, Jibril dan Mikhail}, maka Allah SWT mengkhususkan menyebut Jibril dan Mikhail karena kemuliaan mereka berdua, demikian juga kekhususan keluarga dari sisi ini.
3) Terkadang peringatan untuk keluarga itu untuk memenuhi kebutuhan mereka, supaya tidak terjadi kepada satu orang saja. Sesungguhnya kerabat bukanlah termasuk beban sebagaimana orang lain demi kehormatan mereka. Maka sesungguhnya telah diriwayatkan “Ada seseorang yang bertanya kepada Syaidina Ali ra. apakah Rasulullah SAW mengutamakan kalian ahlul bait dengan yang lain?”, Ali ra menjawab “Ahlul Bait tidak diutamakan kecuali mereka tidak boleh makan harta sedekah dan tidak boleh mengawinkan antara keledai dan kuda.”
4) Wahai Fatimah anak Muhammad! mintalah engkau dari hartaku sekehendak hatimu. Ini merupakan dalil bahwasanya pergantian dan pemberian di dalam sesuatu selain agama adalah boleh dikerjakan oleh penggantinya, dalam urusan agama hal ini dilarang. Sesungguhnya peringatan disini adalah khusus untuk melaksanakan kebaikan atau menghindari larangan.
15 Juni 2010 M
“SYAIDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1) Rasulullah SAW bersabda “Ketika Allah menurunkan ayat {Peringkatkan keluarga mu}. Wahai orang-orang Qurais! Belilah jiwa mu! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. Wahai bani Abdul Manaf! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT, wahai Abbas bin Abdil Mutholib! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. Wahai Shofia! Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. Wahai Fatimah anak Muhammad mintalah engkau dari hartaku sekehendakmu, Aku tidak akan bisa berbuat sesuatu atas kalian terhadap perkara yang turun dari Allah SWT. (HR. Bukhori)
2) Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan atas suatu peringatan untuk sekalian manusia bukan kepada ayat ini saja. Allah SWT berfirman {Wahai orang yang berselimut bangunlah, dan berilah peringatan}. Kemudian Allah SWT memerintahkan akan peringatan secara umum setelah peringatan kepada keluarga secara khusus. Allah SWT berfirman {Barangsiapa memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul – Nya, Jibril dan Mikhail}, maka Allah SWT mengkhususkan menyebut Jibril dan Mikhail karena kemuliaan mereka berdua, demikian juga kekhususan keluarga dari sisi ini.
3) Terkadang peringatan untuk keluarga itu untuk memenuhi kebutuhan mereka, supaya tidak terjadi kepada satu orang saja. Sesungguhnya kerabat bukanlah termasuk beban sebagaimana orang lain demi kehormatan mereka. Maka sesungguhnya telah diriwayatkan “Ada seseorang yang bertanya kepada Syaidina Ali ra. apakah Rasulullah SAW mengutamakan kalian ahlul bait dengan yang lain?”, Ali ra menjawab “Ahlul Bait tidak diutamakan kecuali mereka tidak boleh makan harta sedekah dan tidak boleh mengawinkan antara keledai dan kuda.”
4) Wahai Fatimah anak Muhammad! mintalah engkau dari hartaku sekehendak hatimu. Ini merupakan dalil bahwasanya pergantian dan pemberian di dalam sesuatu selain agama adalah boleh dikerjakan oleh penggantinya, dalam urusan agama hal ini dilarang. Sesungguhnya peringatan disini adalah khusus untuk melaksanakan kebaikan atau menghindari larangan.
Selasa, 25 Mei 2010
Sayydina Ali ra.
11 Jumadil Akhir 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
25 Mei 2010 M
“SAYYDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1. Dari bapaknya Abu Hasyim bahwasanya datang seseorang ke Sahal bin Sa’ad bin Abi Waqos dan berkata kepada Amir kota Madinah “ini Fulan!” sambil memanggil Ali ra. disisi mimbar. Sahal berkata, “Ada apa?”. Berkata Amir kota Madinah kepada Ali ra dengan sebutan Abu Turab, maka tertawalah Sahal bin Sa’ad dan berkata “Demi Allah!, tidak ada yang memberi nama Abu Turab kecuali Nabi SAW dan tidak ada nama yang paling disenangi untuk Sayydina Ali ra dari pada sebutan Abu Turab.” Maka aku bertanya tentang cerita ini kepada Sahal. Wahai Abu Abbas (Sahal bin Sa’ad) bagaimana kejadian tersebut? Sahal menjawab “Pada suatu hari Ali ra masuk kerumah Fatimah kemudian beliau keluar dan berbaring di dalam Masjid.” Kemudian Nabi SAW bertanya kapada Fatimah, “Dimana anak Pamanmu (Ali ra)” Fatimah menjawab, “Ali ra, berada di dalam masjid”. Kemudian Nabi SAW keluar menuju Ali ra yang berada di dalam masjid dan menemukan selendang Ali ra yang terjatuh ke tanah dari atas punggungnya dan tanah sampai melekat ke punggung beliau, maka Nabi segera mengusap tanah tersebut dari punggung Ali ra. kemudian Nabi berkata “Duduklah engkau wahai Abu Turab, Duduklah engkau wahai Abu Turab!
2. Dari Ali bin Abi Tholib berkata, “Tunaikanlah sebagaimana kamu pernah menunaikan (perkara), sesungguhnya aku tidak senang ada perselisihan atas dua orang (Abu Bakar & Umar ra) sehingga manusia menjadi satu golongan atau aku mati sebagaimana para sahabatku telah mati.” Ibnu Sirrin memandang bahwasanya keseluruhan apa (Hadits) yang diriwatkan dari Ali ra adalah dusta yang dimaksud dengan hal tersebut adalah Hadits-hadits riwayat Rofidloh (Syi’ah) dari Ali, tentang perselisihan antara Abu Bakar ra dan Umar ra. (Fatchul Baar juz 7, hal. 88, 89 & 93)
25 Mei 2010 M
“SAYYDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1. Dari bapaknya Abu Hasyim bahwasanya datang seseorang ke Sahal bin Sa’ad bin Abi Waqos dan berkata kepada Amir kota Madinah “ini Fulan!” sambil memanggil Ali ra. disisi mimbar. Sahal berkata, “Ada apa?”. Berkata Amir kota Madinah kepada Ali ra dengan sebutan Abu Turab, maka tertawalah Sahal bin Sa’ad dan berkata “Demi Allah!, tidak ada yang memberi nama Abu Turab kecuali Nabi SAW dan tidak ada nama yang paling disenangi untuk Sayydina Ali ra dari pada sebutan Abu Turab.” Maka aku bertanya tentang cerita ini kepada Sahal. Wahai Abu Abbas (Sahal bin Sa’ad) bagaimana kejadian tersebut? Sahal menjawab “Pada suatu hari Ali ra masuk kerumah Fatimah kemudian beliau keluar dan berbaring di dalam Masjid.” Kemudian Nabi SAW bertanya kapada Fatimah, “Dimana anak Pamanmu (Ali ra)” Fatimah menjawab, “Ali ra, berada di dalam masjid”. Kemudian Nabi SAW keluar menuju Ali ra yang berada di dalam masjid dan menemukan selendang Ali ra yang terjatuh ke tanah dari atas punggungnya dan tanah sampai melekat ke punggung beliau, maka Nabi segera mengusap tanah tersebut dari punggung Ali ra. kemudian Nabi berkata “Duduklah engkau wahai Abu Turab, Duduklah engkau wahai Abu Turab!
2. Dari Ali bin Abi Tholib berkata, “Tunaikanlah sebagaimana kamu pernah menunaikan (perkara), sesungguhnya aku tidak senang ada perselisihan atas dua orang (Abu Bakar & Umar ra) sehingga manusia menjadi satu golongan atau aku mati sebagaimana para sahabatku telah mati.” Ibnu Sirrin memandang bahwasanya keseluruhan apa (Hadits) yang diriwatkan dari Ali ra adalah dusta yang dimaksud dengan hal tersebut adalah Hadits-hadits riwayat Rofidloh (Syi’ah) dari Ali, tentang perselisihan antara Abu Bakar ra dan Umar ra. (Fatchul Baar juz 7, hal. 88, 89 & 93)
Rabu, 12 Mei 2010
Sayydina Ali ra.
26 Jumadil Awwal 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
11 Mei 2010 M
“SAYYDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1) Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh aku akan memberikan bendara ini esok hari kepada seseorang yang Allah SWT memenangkan (perang) diatas kedua tangganya, maka orang-orang memperbincangkannya semalaman, kepada siapa mereka yang akan diberi bendera. Pada keesokan hari orang-orang segera berangkat menuju Rasulullah SAW seraya mengharap untuk diberi bendera tersebut, maka Nabi berkata “dimana Ali bin Abi Tholib?”, orang-orang menjawab “beliau sedang mengeluhkan kedua matanya, wahai Rasulullah!”, maka Rasulullah SAW mengirim mereka untuk mendatangkan Sayydina Ali ra ke hadapan Nabi SAW. Ketika Ali ra. datang Nabi meludahi kedua mata beliau dan berdoa, maka Ali ra sembuh seketika itu seakan-akan tidak ada sakit yang menimpa beliau. Kemudian Nabi SAW memberikan bendara kepadanya, kemudian Ali ra berkata “Wahai Rasulullah apakah aku memerangi mereka (penduduk Khoibar) sehingga mereka seperti kita?”, Nabi menjawab “Teruskan dengan cara pelan-pelan, sehingga engkau turun dipelataran mereka. Kemudian ajak mereka untuk memeluk agama Islam dan beritahu kepada mereka tentang agama Islam dan yang menjadi kewajiban atas mereka dari pada hak Allah SWT, Demi Allah seandainya Allah memberi hidayah pada seseorang berkat dirimu maka itu lebih baik bagimu dari pada engkau bersedekah sebuah kendaraan yang mahal.”
2) Dari Salamah berkata “Sungguh Ali ra telah tertinggal dari Nabi pada perang Khoibar dan karena sakit mata telah menimpa beliau, maka beliau berkata “Aku tertinggal dari Rasulullah!”, maka Ali keluar menyusul Nabi. Ketika beliau (Ali ra) diwaktu sore hari yang mana Allah memanangkan perang Khoibar dikeesokan harinya, maka Rasulullah SAW bersabda “Sungguh aku akan memberikan bendera ini kepada seseorang atau sungguh akan mengambil bendera ini pada esok hari seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya atau dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka Allah memenangkan atas orang tersebut, tiba-tiba kami bertemu dengan Ali ra dan kami tidak mengharapkannya (kehadiran Ali ra) maka orang-orang berkata ini lah Ali, kemudian Rasulullah memberikan bendara kepada Ali ra dan Allah memenangkan (perang) diatas Ali ra.”
11 Mei 2010 M
“SAYYDINA ALI BIN ABI THOLIB RA.”
1) Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh aku akan memberikan bendara ini esok hari kepada seseorang yang Allah SWT memenangkan (perang) diatas kedua tangganya, maka orang-orang memperbincangkannya semalaman, kepada siapa mereka yang akan diberi bendera. Pada keesokan hari orang-orang segera berangkat menuju Rasulullah SAW seraya mengharap untuk diberi bendera tersebut, maka Nabi berkata “dimana Ali bin Abi Tholib?”, orang-orang menjawab “beliau sedang mengeluhkan kedua matanya, wahai Rasulullah!”, maka Rasulullah SAW mengirim mereka untuk mendatangkan Sayydina Ali ra ke hadapan Nabi SAW. Ketika Ali ra. datang Nabi meludahi kedua mata beliau dan berdoa, maka Ali ra sembuh seketika itu seakan-akan tidak ada sakit yang menimpa beliau. Kemudian Nabi SAW memberikan bendara kepadanya, kemudian Ali ra berkata “Wahai Rasulullah apakah aku memerangi mereka (penduduk Khoibar) sehingga mereka seperti kita?”, Nabi menjawab “Teruskan dengan cara pelan-pelan, sehingga engkau turun dipelataran mereka. Kemudian ajak mereka untuk memeluk agama Islam dan beritahu kepada mereka tentang agama Islam dan yang menjadi kewajiban atas mereka dari pada hak Allah SWT, Demi Allah seandainya Allah memberi hidayah pada seseorang berkat dirimu maka itu lebih baik bagimu dari pada engkau bersedekah sebuah kendaraan yang mahal.”
2) Dari Salamah berkata “Sungguh Ali ra telah tertinggal dari Nabi pada perang Khoibar dan karena sakit mata telah menimpa beliau, maka beliau berkata “Aku tertinggal dari Rasulullah!”, maka Ali keluar menyusul Nabi. Ketika beliau (Ali ra) diwaktu sore hari yang mana Allah memanangkan perang Khoibar dikeesokan harinya, maka Rasulullah SAW bersabda “Sungguh aku akan memberikan bendera ini kepada seseorang atau sungguh akan mengambil bendera ini pada esok hari seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya atau dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka Allah memenangkan atas orang tersebut, tiba-tiba kami bertemu dengan Ali ra dan kami tidak mengharapkannya (kehadiran Ali ra) maka orang-orang berkata ini lah Ali, kemudian Rasulullah memberikan bendara kepada Ali ra dan Allah memenangkan (perang) diatas Ali ra.”
Langganan:
Postingan (Atom)
MASJID AGUNG BANGIL
MASJID AGUNG BANGIL MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA SEMUA KALANGAN AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH