27 Jumaadil Akhir 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
31 Mei 2011 M
AQIDAH SYI”AH DALAM KITAB MIZAN
OLEH DR. MOH. KAMIL AL HASYIMI
1) Syech At Thusyi dan Nu’man meriwayatkan hadits dari Imam Ali Ridho as, “Sesunggunya setengah daripada tanda-tanda keluarnya Imam Mahdi, bahwa beliau tampak dalam keadaan telanjang didepan bulatan matahari.” (Kitab Haqul Yakin hal. 347)
Tanda penghinaan yang mana lebih besar dan tanda fitnah yang mana lebih keji dari hal tersebut diatas? Apakah dia (Imam Mahdi) akan baiat kepada Rasulullah SAW padahal dia adalah Mahdi kalian yang ditunggu-tunggu, yaitu orang yang kalian tidak mengenal bapak baginya?. Mahdi mana orang ini, yang bakal tampak dalam keadaan telanjang dibawah bulatan matahari yang tidak ada penutup atau pakaian yang menutupinya?, dan sekalipun tidak ada kegelapan malam yang sangat gelap gulita (menutupi)?. Bagaimana Rasulullah SAW membaiatnya dalam keadaan yang sangat memalukan ini?. Apakah yang ini dinamakan agama Wahai Syi’ah?, agama mana yang kita mungkin menamakannya sebagai agama?.
2) Dalam tafsir Manhaj Ashodiq Syech Fatchullah Kasyani, “Sesungguhnya mencintai Ali ra adalah perbuatan baik, yang mana tidak akan memudlorotkan suatu kejahatan yang menyertai kebaikan tersebut, beliau berkata, “Sesungguhnya cinta kami kepada Ahlul Bait adalah untuk menghilangkan dosa-dosa dari sekalian hamba, sebagaimana angin bisa menggugurkan daun dari pohon.”
3) Seandainya semata-mata cinta itu merupakan kebaikan yang tidak akan memudlorotkan suatu kejahatan yang menyertai kebaikan tersebut, maka kebutuhan mana yang tersisa untuk tetapnya syariat hukum-hukum. Apakah cinta kepada Ali ra dan Imam-imam itu lebih penting disisi Allah SWT dari pada taat-Nya, dan mengamalkan segalah bentuk perintah agama Allah SWT?. Apabila cinta kepada Allah dan Rasul-Nya belum cukup dalam kesalaman dari adzab tanpa beriman dan beramal sholeh, bagaimana cinta kepada Ali bisa mencukupi dari pada amal sholeh dan menggugurkan amal jahat?.” (Kitab Bayinah Sunni wa Syi’ah hal. 34)
Konon menurut cerita orang-orang tua,bahwa Masjid Agung Bangil adalah sebuah masjid Tiban(tiba-tiba muncul)dengan ukuran 22m x 22m. dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dan ada 4 tiang penyangga utama yang kenal sebagai soko wolu . Menurut artifak yang ada di mihrob,tertulis tahun 1287 H
Selasa, 31 Mei 2011
20 Jumaadil Akhir 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
24 Mei 2011 M
1) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jagalah para sahabatku dan mertuaku serta pelindungku, barangsiapa yang menjaga mereka (sahabat, mertua dan pelindungku) maka dia akan dijaga oleh Allah SWT di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang tidak menjaga mereka, maka dia akan ditinggal oleh Allah SWT, barangsiapa yang ditinggal oleh Allah SWT, maka dia sangat dengat untuk mendapat siksa.” (HR. Ibnu As-syaqir)
2) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila Allah SWT berkehendak untuk menjadikan seseorang menjadi baik dari umatku, maka Allah SWT memberi rasa cinta kepada para sahabat ke dalam hatinya.” (HR. Addhailami dari Anas bin Malik ra)
3) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang mencaci maki para sahabatku, maka berkatalah kalian kepada mereka “mudah-mudahan kamu dikutuk oleh Allah SWT karena kejahatanmu!” (HR. Al Khotib dari Ibnu Umar ra)
4) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya umatku yang paling jelek adalah orang yang berani berkata kotor kepada para sahabatku.” (HR. Ibnu Addy dari Aisyah ra) Kitab As-showaiq hal 11 – 12
5) Ad Daruqudni menceritakan dari Ja’far As Shoddiq dari bapaknya Muhammad Al Bakir, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang ke bapaknya Muhammad Al Bakir yang bernama Ali bin Husien yang bergelar Zainul Abidin, maka orang-orang laki-laki tersebut berkata, “Wahai Ali ceritakanlah kepada saya, tentang Abu Bakar ra.?, Maka Ali menjawab, “Abu Bakar termasuk orang yang paling jujur.” Kemudian orang laki-laki tersebut bertanya lagi, “Mengapa kalian memberi nama Abu Bakar sebagai orang paling jujur?” Ali menjawab, “Mudah-mudahan kamu diusir oleh Ibumu!. Sesungguhnya Rasulullah SAW, dan para kaum muhajirin serta kaum Anshor telah memberi gelar Abu Bakar dengan gelar “As – Shiddiq”. Barangsiapa yang tidak memberi gelar kepada Abu Bakar dengan gelar As – Shiddiq, maka ucapannya tidak dibenarkan oleh Allah SWT baik di dunia dan diakhirat. Ali berkata lagi, “Pergilah dariku dan cintailah Abu Bakar ra dan Umar ra.” (Kitab As – Showaiq hal. 78 – 79)
24 Mei 2011 M
1) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jagalah para sahabatku dan mertuaku serta pelindungku, barangsiapa yang menjaga mereka (sahabat, mertua dan pelindungku) maka dia akan dijaga oleh Allah SWT di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang tidak menjaga mereka, maka dia akan ditinggal oleh Allah SWT, barangsiapa yang ditinggal oleh Allah SWT, maka dia sangat dengat untuk mendapat siksa.” (HR. Ibnu As-syaqir)
2) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila Allah SWT berkehendak untuk menjadikan seseorang menjadi baik dari umatku, maka Allah SWT memberi rasa cinta kepada para sahabat ke dalam hatinya.” (HR. Addhailami dari Anas bin Malik ra)
3) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang mencaci maki para sahabatku, maka berkatalah kalian kepada mereka “mudah-mudahan kamu dikutuk oleh Allah SWT karena kejahatanmu!” (HR. Al Khotib dari Ibnu Umar ra)
4) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya umatku yang paling jelek adalah orang yang berani berkata kotor kepada para sahabatku.” (HR. Ibnu Addy dari Aisyah ra) Kitab As-showaiq hal 11 – 12
5) Ad Daruqudni menceritakan dari Ja’far As Shoddiq dari bapaknya Muhammad Al Bakir, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang ke bapaknya Muhammad Al Bakir yang bernama Ali bin Husien yang bergelar Zainul Abidin, maka orang-orang laki-laki tersebut berkata, “Wahai Ali ceritakanlah kepada saya, tentang Abu Bakar ra.?, Maka Ali menjawab, “Abu Bakar termasuk orang yang paling jujur.” Kemudian orang laki-laki tersebut bertanya lagi, “Mengapa kalian memberi nama Abu Bakar sebagai orang paling jujur?” Ali menjawab, “Mudah-mudahan kamu diusir oleh Ibumu!. Sesungguhnya Rasulullah SAW, dan para kaum muhajirin serta kaum Anshor telah memberi gelar Abu Bakar dengan gelar “As – Shiddiq”. Barangsiapa yang tidak memberi gelar kepada Abu Bakar dengan gelar As – Shiddiq, maka ucapannya tidak dibenarkan oleh Allah SWT baik di dunia dan diakhirat. Ali berkata lagi, “Pergilah dariku dan cintailah Abu Bakar ra dan Umar ra.” (Kitab As – Showaiq hal. 78 – 79)
Selasa, 10 Mei 2011
1) Said Umar Al Hasyimi Al Hadromi dari penduduk Bairut dia pernah berkumpul dengan orang-orang Syi’ah di sebuah gunung bernama Amilah, maka sebagian orang Syi’ah berkata kepada beliau bahwa kami ini membenci Abu Bakar karena Abu Bakar ra mendahului menjadi kholifah dari pada Ali bin Abi Tholib ra.dan kami membenci kepada Malaikat Jibril karena Malaikat Jibril telah menyampaikan risalah kepada Muhammad dan tidak menyampaikan kepada Ali bin Abi Tholib ra. Dan kami benci kepada Muhammad karena dia telah mendahulukan Abu Bakar ra, sebagai pengganti imam dalam sholat tidak memilih Ali bin Abi Tholib ra. Dan kami benci kepada Ali bin Abi Tholib ra. karena dia diam untuk menggambil hak nya dari Abu Bakar ra. padahal dia (Ali ra) mampu untuk melakukannya dan kami benci kepada Allah SWT karena Allah SWT menggangkat Muhammad sebagai utusan dan tidak mengangkat Ali ra sebagai utusan.
Lihatlah omongan orang Rofidhoh ini!
yang dikutuk oleh Allah SWT. Kami (Said Umar)berlindung kepada Allah SWT dari agama orang ini (Rofidhoh). Dan tidak diragukan lagi sesungguhnya Dia (Rofidhoh) lebih jahat dari pada iblis yang terkutuk, yang mana Allah SWT telah menjauhkan dari Rahmat-Nya. Karena sesungguhnya Iblis tidak benci kepada Allah SWT. Tetapi kami berkata kepada orang Rofidoh, “Seandainya Jibril salah atau tidak mengerjakan perintah Tuhannya, kenapa Allah SWT tidak menyiksa Malaikat Jibril dan kenapa Allah SWT mengistimewakan Muhammad SAW dengan berbagai mukjizat yang jumlahnya tidak bisa dihitung, atau kenapa Syaidina Ali ra tidak mendapatkan keistimewaan?.” (Kitab Arroatul Ghomidhoh hal. 22)
Lihatlah omongan orang Rofidhoh ini!
yang dikutuk oleh Allah SWT. Kami (Said Umar)berlindung kepada Allah SWT dari agama orang ini (Rofidhoh). Dan tidak diragukan lagi sesungguhnya Dia (Rofidhoh) lebih jahat dari pada iblis yang terkutuk, yang mana Allah SWT telah menjauhkan dari Rahmat-Nya. Karena sesungguhnya Iblis tidak benci kepada Allah SWT. Tetapi kami berkata kepada orang Rofidoh, “Seandainya Jibril salah atau tidak mengerjakan perintah Tuhannya, kenapa Allah SWT tidak menyiksa Malaikat Jibril dan kenapa Allah SWT mengistimewakan Muhammad SAW dengan berbagai mukjizat yang jumlahnya tidak bisa dihitung, atau kenapa Syaidina Ali ra tidak mendapatkan keistimewaan?.” (Kitab Arroatul Ghomidhoh hal. 22)
29 Jumaadil Awal 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
3 Mei 2011 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Para Ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah telah berkata, “barangsiapa yang berkeyakinan dalam Al qur’an yang telah dikumpulkan oleh para sahabat ra. Diantara dua sisi sampul bahwasanya Al qur’an tersebut telah dirubah yangmana telah ditambah didalamnya sesuatu yang bukan dari Al qur’an atau dikurangi, diganti, atau tidak dipercaya kepada sesuatu yang telah diterangkan dalam Al qur’an baik itu hukum atau cerita yang telah ditetapkan dalam Al qur’an, atau menetapkan sesuatu yang tidak terdapat dalam Al qur’an, atau meniadakan apa yang sudah ada di dalam Al qur’an dengan sepengatahuan dari semua itu, maka orang itu kafir hukumnya dengan kesepakatan para ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Al qur’an itu adalah merupakan kitab dari Dzat Yang Maha Mulia yang tidak tercampur dengan kekotoran dari depan-Nya atau dari belakang-Nya” (QS Fusilat ayat 41 – 42)
Maka dengan kesepakatan para ulama’ Al qur’an adalah terpelihara dari penambahan, pengurangan, perubahan, pergantian, dan penghilangan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al qur’an dan Kami yang menjaganya,” Inilah sikap Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dan ini menjadi keyakinan Ulama’ Ahlussunnah Wal jama’ah dalam masalah Al qur’an.
Adapun sikap kelompok Syi’ah mereka berpendirian untuk meragukan dan menghilangkan serta menuduh bahwa Al qur’an telah bertambah dan berkurang. Mudah-mudahan Allah SWT menjaga kami dari keraguan-keraguan yang jelas. (Kitab Al Ajwibah Dhamighoh hal. 19)
Al Qur’an Menurut Syi’ah
Surat Annur
1) Wahai orang-orang yang beriman dengan dua cahaya kami telah menurunkan keduanya kepadamu, ayat-ayatku dan keduanya menakut-nakuti dengan siksaan yang besar. Dua cahaya satu sama lain saling menyatu Aku adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Orang-orang yang menempati janji Allah dan Rosul-Nya dalam ayat-ayat-Nya mereka mendapatkan surga Naim. Dan orang-orang yang kafir setelah beriman mereka memutuskan perjanjian atas apa yang telah mereka janjikan kepada Rasul mereka dilemparkan ke neraka jahim. Mereka mendholimi dirinya sendiri dan durhaka kepada orang yang mendapat wasiat dari Rasul, maka mereka akan diberi minum dari air panas.
2) Allah SWT berfirman, “Manusia dan Jin tidak akan ditanya tentang dosanya dari pada kamu, maka Aku bertanya dosa yang bukan dari kamu, Allah menjawab Ya, tetapi dosanya itu dihapus oleh Ibnu Aruwi.” (Kitab Fashul Khitob hal. 157)
3 Mei 2011 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Para Ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah telah berkata, “barangsiapa yang berkeyakinan dalam Al qur’an yang telah dikumpulkan oleh para sahabat ra. Diantara dua sisi sampul bahwasanya Al qur’an tersebut telah dirubah yangmana telah ditambah didalamnya sesuatu yang bukan dari Al qur’an atau dikurangi, diganti, atau tidak dipercaya kepada sesuatu yang telah diterangkan dalam Al qur’an baik itu hukum atau cerita yang telah ditetapkan dalam Al qur’an, atau menetapkan sesuatu yang tidak terdapat dalam Al qur’an, atau meniadakan apa yang sudah ada di dalam Al qur’an dengan sepengatahuan dari semua itu, maka orang itu kafir hukumnya dengan kesepakatan para ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Al qur’an itu adalah merupakan kitab dari Dzat Yang Maha Mulia yang tidak tercampur dengan kekotoran dari depan-Nya atau dari belakang-Nya” (QS Fusilat ayat 41 – 42)
Maka dengan kesepakatan para ulama’ Al qur’an adalah terpelihara dari penambahan, pengurangan, perubahan, pergantian, dan penghilangan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al qur’an dan Kami yang menjaganya,” Inilah sikap Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dan ini menjadi keyakinan Ulama’ Ahlussunnah Wal jama’ah dalam masalah Al qur’an.
Adapun sikap kelompok Syi’ah mereka berpendirian untuk meragukan dan menghilangkan serta menuduh bahwa Al qur’an telah bertambah dan berkurang. Mudah-mudahan Allah SWT menjaga kami dari keraguan-keraguan yang jelas. (Kitab Al Ajwibah Dhamighoh hal. 19)
Al Qur’an Menurut Syi’ah
Surat Annur
1) Wahai orang-orang yang beriman dengan dua cahaya kami telah menurunkan keduanya kepadamu, ayat-ayatku dan keduanya menakut-nakuti dengan siksaan yang besar. Dua cahaya satu sama lain saling menyatu Aku adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Orang-orang yang menempati janji Allah dan Rosul-Nya dalam ayat-ayat-Nya mereka mendapatkan surga Naim. Dan orang-orang yang kafir setelah beriman mereka memutuskan perjanjian atas apa yang telah mereka janjikan kepada Rasul mereka dilemparkan ke neraka jahim. Mereka mendholimi dirinya sendiri dan durhaka kepada orang yang mendapat wasiat dari Rasul, maka mereka akan diberi minum dari air panas.
2) Allah SWT berfirman, “Manusia dan Jin tidak akan ditanya tentang dosanya dari pada kamu, maka Aku bertanya dosa yang bukan dari kamu, Allah menjawab Ya, tetapi dosanya itu dihapus oleh Ibnu Aruwi.” (Kitab Fashul Khitob hal. 157)
Rabu, 27 April 2011
Al - Qur'an
22 Jumaadil Awal 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
29 April 2010 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka Berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui.” (QS. Al Imran ayat 78)
2) Allah SWT memberitahu tentang Yahudi yang mana telah mendapatkan laknat dari Allah SWT, bahwa sesungguhnya ada sekelompok dari mereka telah merubah kalimat-kalimat dari letaknya dan mereka mengganti kalam Allah SWT serta menghilangkannya dari yang dikehendaki-Nya, agar kalimat-kalimat tersebut menjadi sangkaan bagi orang-orang Yahudi yang bodoh sebagai bacaan dalam kitab Allah SWT. (Kitab Ibnu Katsir juz 1 – hal. 377)
3) Ada sekelompok dari ahlul kitab dari pada pendeta-pendeta mereka, ulama-ulama’ mereka dan pemimpin-pemimpin mereka, yaitu Ka’ab bin Asro, Malik bin Soyif, Huyayyi bin Akhtof dan lain-lainnya mereka memutarbalikkan lidah-lidah mereka dengan bacaan kitab-kitab mereka yang telah diturunkan di dalam kebenaran menjadi bacaan yang berubah dengan tambahan pada Kalam Allah. Atau pengurangan, perubahan makna atau bacaannya berupa syair-syair sehingga bisa menjadikan sangkaan atas manusia bahwasanya hal tersebut adalah termasuk dari kitab Taurat, dan mereka menyangka bahwasanya kitab tersebut yang telah dirubah dan termasuk kalam Allah padahal tidak dari sisi Allah SWT. Maka orang-orang tersebut adalah pendusta dengan perkataan mereka yang telah dikatakan dalam kitab yang telah mereka rubah tersebut. Maka sesungguhnya mereka mengaku-ngaku bahwa kitab tersebut dari sisi Allah SWT. (Kitab Tafsir Munir juz 3 – hal. 272)
QUR’AN VERSI SYI’AH
1) Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam masalah wilayah Ali ra dan imam-imam setelahnya maka sungguh dia beruntung dengan untung yang besar.
2) Wahai orang-orang yang telah diberikan kitab suci, berimanlah kalian dengan kitab yang Kami (Allah SWT) turunkan kepada Ali ra, dengan cahaya yang nyata.
3) Ada seorang bertanya tentang adzab yang pasti terjadi terhadap orang-orang kafir dengan wilayahnya Ali ra, maka tidak ada yang bisa menolak baginya (orang-orang kafir)
4) Maka menolak sebagian besar manusia dengan wilayahnya Ali ra kecuali karena kekufuran.
5) Sungguh telah kami jadikan kepada Adam dari sebelumnya akan kalimat-kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husien dan Imam-imam dari anak turun mereka, maka dia telah lalai.
29 April 2010 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka Berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui.” (QS. Al Imran ayat 78)
2) Allah SWT memberitahu tentang Yahudi yang mana telah mendapatkan laknat dari Allah SWT, bahwa sesungguhnya ada sekelompok dari mereka telah merubah kalimat-kalimat dari letaknya dan mereka mengganti kalam Allah SWT serta menghilangkannya dari yang dikehendaki-Nya, agar kalimat-kalimat tersebut menjadi sangkaan bagi orang-orang Yahudi yang bodoh sebagai bacaan dalam kitab Allah SWT. (Kitab Ibnu Katsir juz 1 – hal. 377)
3) Ada sekelompok dari ahlul kitab dari pada pendeta-pendeta mereka, ulama-ulama’ mereka dan pemimpin-pemimpin mereka, yaitu Ka’ab bin Asro, Malik bin Soyif, Huyayyi bin Akhtof dan lain-lainnya mereka memutarbalikkan lidah-lidah mereka dengan bacaan kitab-kitab mereka yang telah diturunkan di dalam kebenaran menjadi bacaan yang berubah dengan tambahan pada Kalam Allah. Atau pengurangan, perubahan makna atau bacaannya berupa syair-syair sehingga bisa menjadikan sangkaan atas manusia bahwasanya hal tersebut adalah termasuk dari kitab Taurat, dan mereka menyangka bahwasanya kitab tersebut yang telah dirubah dan termasuk kalam Allah padahal tidak dari sisi Allah SWT. Maka orang-orang tersebut adalah pendusta dengan perkataan mereka yang telah dikatakan dalam kitab yang telah mereka rubah tersebut. Maka sesungguhnya mereka mengaku-ngaku bahwa kitab tersebut dari sisi Allah SWT. (Kitab Tafsir Munir juz 3 – hal. 272)
QUR’AN VERSI SYI’AH
1) Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam masalah wilayah Ali ra dan imam-imam setelahnya maka sungguh dia beruntung dengan untung yang besar.
2) Wahai orang-orang yang telah diberikan kitab suci, berimanlah kalian dengan kitab yang Kami (Allah SWT) turunkan kepada Ali ra, dengan cahaya yang nyata.
3) Ada seorang bertanya tentang adzab yang pasti terjadi terhadap orang-orang kafir dengan wilayahnya Ali ra, maka tidak ada yang bisa menolak baginya (orang-orang kafir)
4) Maka menolak sebagian besar manusia dengan wilayahnya Ali ra kecuali karena kekufuran.
5) Sungguh telah kami jadikan kepada Adam dari sebelumnya akan kalimat-kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husien dan Imam-imam dari anak turun mereka, maka dia telah lalai.
Rabu, 13 April 2011
amar ma'ruf nahi mungkar 2
Bangil, 12 April 2011 M Pengasuh : UST. H.Nur Kholis Musytari
18Jumaadil Awal 1432 H
AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
(MENYURUHKEBAIKAN DAN MELARANG KEJELEKAN)
1) Allah SWT berfiman : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS. Al Hasyr Ayat 10)
2) Orang-orang yang setelah kaum muhajirin dan anshor sampai hari kiamat termasuk golongan tabi’in (Firman Allah : “Jangan membiarkan kedengkian dalam hati kami) yaitu dendam, rasa panas dihati dan mendidih hatinya yang bisa mendatangkan siksaan. (Firman Allah yang artinya : Untuk orang-orang yang beriman) ialah semua orang beriman dimana saja mereka berada. (Kitab Tafsir Maftuhal Al Uluhiyyah (Al Jamal) juz 4 hal. 317)
3) (Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang) setiap orang yang mempunyai rasa yang dalam hatinya mempunyai rasa dengki dan benci terhadap salah sahabat Rasulullah SAW. Karena Allah telah memberi tiga urutan antara lain kaum Muhajirin, kaum Anshor dan orang-orang yang setelah mereka. Sedangkan para Tabi’in adalah termasuk orang yang disebutkan oleh Allah SWT sedangkan orang yang bukan dari golongan Tabi’in maka golongan tersebut bukan termasuk golongan orang yang beriman. Mereka bukan bagian dari orang-orang Islam. (Tafsir Khozin juz 7 hal. 55)
4) (Untuk orang-orang beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau yang Maha Pengampun dan Penyayang) Alangkah baiknya apa yang diambil sebagai hukum oleh Imam Malik dari ayat Al qur’an tersebut “Sesungguhnya orang-orang rofidhoh adalah orang yang mencaci maki sahabat Nabi SAW dia tidak mempunyai bagian dalam harta rampasan perang, karena mereka sama sekali tidak termasuk orang-orang yang mendapatkan sifat yang dipuji oleh Allah SWT.” Siti Aisyah ra berkata, “Mereka (Rofidhoh) disuruh untuk memintakan ampunan bagi para sahabat, akan tetapi mereka justru orang-orang Rofidhoh malah mencaci maki para sahabat.” Dan Siti Aisyah ra berkata lagi, “Engkau (orang-orang Rofidhoh) diperintah untuk memintakan ampun untuk para sahabat Nabi SAW tetapi kalian (orang-orang Rofidhoh) mencaci maki mereka (para sahabat). Aku (Siti Aisyah) telah mendengar Nabi mu, beliau SAW bersabda “kalian jangan meninggalkan umat ini sampai umat yang terakhir mengutuk umat yang pertama.” (HR Al Baghowi)
Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal. 340
18Jumaadil Awal 1432 H
AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
(MENYURUHKEBAIKAN DAN MELARANG KEJELEKAN)
1) Allah SWT berfiman : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS. Al Hasyr Ayat 10)
2) Orang-orang yang setelah kaum muhajirin dan anshor sampai hari kiamat termasuk golongan tabi’in (Firman Allah : “Jangan membiarkan kedengkian dalam hati kami) yaitu dendam, rasa panas dihati dan mendidih hatinya yang bisa mendatangkan siksaan. (Firman Allah yang artinya : Untuk orang-orang yang beriman) ialah semua orang beriman dimana saja mereka berada. (Kitab Tafsir Maftuhal Al Uluhiyyah (Al Jamal) juz 4 hal. 317)
3) (Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang) setiap orang yang mempunyai rasa yang dalam hatinya mempunyai rasa dengki dan benci terhadap salah sahabat Rasulullah SAW. Karena Allah telah memberi tiga urutan antara lain kaum Muhajirin, kaum Anshor dan orang-orang yang setelah mereka. Sedangkan para Tabi’in adalah termasuk orang yang disebutkan oleh Allah SWT sedangkan orang yang bukan dari golongan Tabi’in maka golongan tersebut bukan termasuk golongan orang yang beriman. Mereka bukan bagian dari orang-orang Islam. (Tafsir Khozin juz 7 hal. 55)
4) (Untuk orang-orang beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau yang Maha Pengampun dan Penyayang) Alangkah baiknya apa yang diambil sebagai hukum oleh Imam Malik dari ayat Al qur’an tersebut “Sesungguhnya orang-orang rofidhoh adalah orang yang mencaci maki sahabat Nabi SAW dia tidak mempunyai bagian dalam harta rampasan perang, karena mereka sama sekali tidak termasuk orang-orang yang mendapatkan sifat yang dipuji oleh Allah SWT.” Siti Aisyah ra berkata, “Mereka (Rofidhoh) disuruh untuk memintakan ampunan bagi para sahabat, akan tetapi mereka justru orang-orang Rofidhoh malah mencaci maki para sahabat.” Dan Siti Aisyah ra berkata lagi, “Engkau (orang-orang Rofidhoh) diperintah untuk memintakan ampun untuk para sahabat Nabi SAW tetapi kalian (orang-orang Rofidhoh) mencaci maki mereka (para sahabat). Aku (Siti Aisyah) telah mendengar Nabi mu, beliau SAW bersabda “kalian jangan meninggalkan umat ini sampai umat yang terakhir mengutuk umat yang pertama.” (HR Al Baghowi)
Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal. 340
amar ma'ruf nahi mungkar
Bangil, 5 Maret 2011 M Pengasuh : UST. H.Nur Kholis Musytari
1 Jumaadil Awal 1432 H
AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
(MENYURUHKEBAIKAN DAN MELARANG KEJELEKAN)
1) Allah SWT berfiman : “Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kau duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.” (QS An Nisa ayat 140)
2) Rasulullah SAW bersabda : “Apabila Allah menurunkan adzab (siksa) ke salah satu kaum maka adzab itu akan mengena kepada orang yang bersama kaumnya, kemudian Allah membangkitkannya dalam alam kubur sesuai dengan amal masing-masing.” (HR. Bukhori dari Abdullah bin Umar)
3) Di dalam keterangan ini bahwa sesungguhnya orang yang diam dari kemunkaran akan sama dosanya dengan orang yang melakukan kemunkaran tersebut.
(Kitab Tafsir Munir juz 5 hal. 321)
4) Dari keterangan tersebut dapat diambil pengertian, bahwa menjauhi kedholiman adalah menjadi ketetapan syariat karena berkumpul dengan orang-orang yang bermaksiat adalah termasuk melemparkan dirinya sendiri ke tempat kerusakan (maksiatan).
5) Di dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar terdapat peringatan yang keras untuk orang yang diam dari mencegah kemunkaran, maka bagaimana dengan orang yang bermuka manis kepada orang yang bermaksiat dan bagaimana pula bagi orang yang mendukung kemaksiatan serta bagaimana bagi orang yang membantu kemaksiatan?.
Dari Ibrohim bin Umar Ad Dhokhoni beliau berkata, “Pada suatu hari Allah SWT member wahyu kepada Nabi Yussak bin Nun isi wahyu tersebut yaitu “Sesungguhnya Saya (Allah SWT) membinasakan kaum mu (Kaum nabi Yussak) orang-orang yang baik empat puluh ribu dan orang yang berdosa sebanyak enam puluh ribu.” Nabi Yussak berkata, “Wahai Tuhanku! Bagi orang-orang yang berbuat dosa sudah pantas mendapatkan siksa, lalu bagaimana orang-orang yang tidak berbuat dosa?”, Allah SWT menjawab, “Sesungguhnya mereka (orang-orang baik) tidak membenci kemaksiatan sebagaimana Aku benci, bahkan mereka ikut makan-makan dan minum bersama mereka.”
Malik bin Dinnar berkata, “Allah SWT telah memberi wahyu kepada sebagian malaikat yaitu “hancurkan kota ini dan kota ini beserta penduduknya.” Malaikat berkata, “Disitu ada hamba-Mu yang tidak pernah berbuat durhaka sekalipun hanya sekejab mata!.” Allah SWT menjawab, “Hancurkan kota ini bersama penduduknya sekalipun ada orang yang ahli ibadah, maka sesungguhnya hati orang yang ahli ibadah tidak merasa cemburu kepada-Ku sekalipun hanya sesaat.” (Kitab Abu Jamroh hal. 201)
1 Jumaadil Awal 1432 H
AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
(MENYURUHKEBAIKAN DAN MELARANG KEJELEKAN)
1) Allah SWT berfiman : “Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kau duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.” (QS An Nisa ayat 140)
2) Rasulullah SAW bersabda : “Apabila Allah menurunkan adzab (siksa) ke salah satu kaum maka adzab itu akan mengena kepada orang yang bersama kaumnya, kemudian Allah membangkitkannya dalam alam kubur sesuai dengan amal masing-masing.” (HR. Bukhori dari Abdullah bin Umar)
3) Di dalam keterangan ini bahwa sesungguhnya orang yang diam dari kemunkaran akan sama dosanya dengan orang yang melakukan kemunkaran tersebut.
(Kitab Tafsir Munir juz 5 hal. 321)
4) Dari keterangan tersebut dapat diambil pengertian, bahwa menjauhi kedholiman adalah menjadi ketetapan syariat karena berkumpul dengan orang-orang yang bermaksiat adalah termasuk melemparkan dirinya sendiri ke tempat kerusakan (maksiatan).
5) Di dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar terdapat peringatan yang keras untuk orang yang diam dari mencegah kemunkaran, maka bagaimana dengan orang yang bermuka manis kepada orang yang bermaksiat dan bagaimana pula bagi orang yang mendukung kemaksiatan serta bagaimana bagi orang yang membantu kemaksiatan?.
Dari Ibrohim bin Umar Ad Dhokhoni beliau berkata, “Pada suatu hari Allah SWT member wahyu kepada Nabi Yussak bin Nun isi wahyu tersebut yaitu “Sesungguhnya Saya (Allah SWT) membinasakan kaum mu (Kaum nabi Yussak) orang-orang yang baik empat puluh ribu dan orang yang berdosa sebanyak enam puluh ribu.” Nabi Yussak berkata, “Wahai Tuhanku! Bagi orang-orang yang berbuat dosa sudah pantas mendapatkan siksa, lalu bagaimana orang-orang yang tidak berbuat dosa?”, Allah SWT menjawab, “Sesungguhnya mereka (orang-orang baik) tidak membenci kemaksiatan sebagaimana Aku benci, bahkan mereka ikut makan-makan dan minum bersama mereka.”
Malik bin Dinnar berkata, “Allah SWT telah memberi wahyu kepada sebagian malaikat yaitu “hancurkan kota ini dan kota ini beserta penduduknya.” Malaikat berkata, “Disitu ada hamba-Mu yang tidak pernah berbuat durhaka sekalipun hanya sekejab mata!.” Allah SWT menjawab, “Hancurkan kota ini bersama penduduknya sekalipun ada orang yang ahli ibadah, maka sesungguhnya hati orang yang ahli ibadah tidak merasa cemburu kepada-Ku sekalipun hanya sesaat.” (Kitab Abu Jamroh hal. 201)
Langganan:
Postingan (Atom)
MASJID AGUNG BANGIL
MASJID AGUNG BANGIL MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA SEMUA KALANGAN AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH