MASJID AGUNG BANGIL

Selasa, 13 Desember 2011

KEUTAMAAN SHOLAT MALAM (TAHAJJUD)

17 Muharram 1433 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
13 Desember 2011 M




1) Allah SWT berfirman : “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” (QS. Al Israa’ ayat 79)

2) Rasulullah SWT : “Paling utamanya puasa sunnah setelah puasa bulan romadhon adalah puasa sunnah dibulan muharram, paling utamanya sholat setelah fardlu adalah sholat malam.” (HR Muslim)

3) Nabi Muhammad SAW bersabda : “Lazimi oleh mu sholat malam karena sesungguhnya sholat malam itu kebiasaan orang-orang yang sholeh sebelum kalian, amal yang bisa mendekatkan diri bagi kalian, penebus dari segala perbuatan jahat, mencegah dari perbuatan dosa dan menolak segala penyakit dari badan.

4) Nabi Muhammad SAW bersabda : “Wahai manusia! sebarkan salam, berilah makanan, sambunglah tali silaturrohim dan sholatlah dimalam hari yang mana semua manusia masih tidur terlelap maka engkau akan masuk surga dengan selamat.

5) Disunnahkan sholat tahajjud dengan ijma’ yaitu sholat sunnah ditengah malam hari setelah tidur, makruh meninggalkan sholat tersebut bagi orang yang membiasakannya tanpa terpaksa dan dikuatkan hukumnya jangan sampai seseorang meninggalkan sholat dimalam hari setelah tidur sekalipun dua rokaat karena begitu besar fadhilanya sholat malam hari. Tidak ada batasan pada bilangan rokaat sholat tersebut. Dan dikatakan batasan sholat di malam hari adalah 12 rokaat. Hendaknya seseorang memperbanyak membaca doa dan istighfar pada malam hari. (Kitab I’anatun Tholibi juz 1 hal 268)

Selasa, 06 Desember 2011

ASWAJA

10 Muharram 1433 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
6 Desember 2011 M


ASWAJAH

1) Syech Muhyidin An Nawawi berkata dalam Syara shoheh Muslim, “Pengangkatan Abu Bakar ra. sebagai kholifah memang tidak ada nash yang jelas, akan tetapi dengan ijma’ para sahabat atas penggangkatan (penetapan) kholifah bagi beliau, para sahabat mengajukan Abu Bakar karena keutamaan beliau dikalangan para sahabat. Seandainya ada nash yang jelas tentang pengangkatan beliau kepada yang lainnya pastilah tidak akan terjadi pertentangan, yang pada mulanya timbul dari sahabat anshor sebagaimana ucapan mereka “Kami mempunyai pemimpin dan kalian mempunyai pemimpin sendiri”. Adapun dakwaan Syi’ah tentang adanya Nash atas Ali ra. maka hal tersebut adalah bathil karena tidak ada asal hukum yang disepakati oleh sekalian orang muslim dan orang pertama yang mendustakan mereka orang-orang Syi’ah adalah Ali ra. Seandainya ada nash disisi Ali ra. pastilah beliau menyebutkannnya dan tidak ada nukilan (cacatan) bahwasanya Ali ra. menyebut nash tersebut pada suatu hari ataupun dari hari-hari beliau. (Kitab Syiratul Bani Mukhtar hal. 404)

2) Sudah menjadi ketetapan bahwa sesungguhnya Ali ra pernah berkata, “Rasulullah telah mengajukan Abu Bakar ra, maka beliau sholat dengan sekalian manusia dan pada waktu itu aku (Ali ra) hadir tidak meninggalkan tempat dan aku dalam keadaan sehat tidak sakit. Seandainya Nabi SAW berkehendak mengajukan Aku pastilah beliau mengajukan diriku. Apakah kami tidak rela pada urusan dunia kami terhadap orang yang Rasulullah meridhoi dirinya untuk agama kami.”

3) Dari Ali ra bahwasanya beliau berkata, “Wahai manusia!, beritahukan kepadaku siapa yang manusia yang paling berani?, Mereka menjawab, “Engkau!”. Ali ra. berkata, “Bukan aku.” Sahabat bertanya, “Lalu siapa?”, Ali ra berkata, “Dia adalah Abu Bakar ra.” Ali ra. berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah SAW dan orang-orang Qurais menangkap beliau SAW. Orang yang ini mendorong beliau SAW, yang ini mengoyak beliau SAW. Orang-orang Qurais berkata “Engkau SAW adalah orang yang menjadikan Tuhan-Tuhan menjadi satu Tuhan.” Ali ra. berkata, “Dami Allah!, tidak ada satu orang pun yang mendekat dari kami kecuali Abu Bakar ra. beliau memukul ini dan melawan yang ini, sambil berkata, “Celaka kalian, apakah kalian hendak membunuh seseorang yang berkata Allah adalah Tuhanku”. Kemudian Ali ra. mengangkat selimutnya lalu menangis sampai membasahi jenggotnya. kemudian Ali ra berkata, “Aku bersumpah atas kalian dengan Nama Allah SWT!, Adakah orang-orang yang beriman dari keluarga Fir’aun itu lebih baik dari pada Abu Bakar ra atau Abu Bakar ra. yang lebih baik dari pada keluarga Fir’aun?. Mereka adalah orang yang menyembunyikan keimanannya sedangkan Abu Bakar adalah orang menampakkan keimannya.” (Kitab Ad Dzur Mansur juz 5 – hal 22)

Kamis, 24 November 2011

KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH

1) Sholat Nafl diibaratkan dengan sunnah, Mandub, Hasan, Marghub, Mustahaq, Tathowwu’ dan Ikhsan kemudian sholat sunnah dibagi sholat sunnah Muakkad dan Ghoiru Muakkad. Dan beliau berkata bahwa sesungguhnya meninggalkan sunnah muakkad orang tersebut akan tersiksa sebab tercegah dari syafa’at Nabi SAW pada hari kiamat, sekalipun orang yang meninggalkan sunnah Muakkad tersebut tidak akan diadzab dengan api neraka. (Madzaibul Arba’ah juz 1 – hal. 64)
Disunnahkan sholat 4 rokaat sebelum Ashar dan Dhuhur serta sesudah Dhuhur. Dua rokaat setelah Maghrib dan Isya’ begitu juga sebelum keduanya. Dan juga 2 rokaat sebelum Shubuh.

1) Karena Sabda Nabi SAW, “Mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat orang yang sholat sunnah 4 rokaat sebelum Ashar. Maka sepantasnyalah menjaga sholat Sunnah tersebut seraya mengharap masuk didalam doa Nabi SAW.

2) Karena sabda Nabi SAW, “Barangsiapa menjaga 4 rokaat sebelulm Dhuhur serta 4 rokaat setelahnya maka Allah mengharamkan orang tersebut dari adzab neraka. Dan sholat Jum’at sama dengan sholat Dhuhur yaitu 4 rokaat qobliyah dan 4 rokaat ba’diyah.”

3) Karena hadits riwayat Imam Muslim bahwa sesungguhnya Nabi SAW sholat 2 rokaat sebelum dhuhur dan 2 rokaat setelahnya. 2 rokaat setelah Maghrib dan 2 rokaat setelah Isya’. Begitu juga 2 rokaat setelah Jum’at.”

4) 2 rokaat sebelum Shubuh sebagaimana Nabi SAW bersabda, “2 rokaat fajar (qoblah Shubuh) itu lebih baik dari dunia dan seisinya.”
Waktu Rowatib masuk sebelum sholat fardlu dengan masuknya waktu fardlu tersebut, dan rowatib tersebut setelah sholat fardlu yang mana masuk waktunya setelah melaksanakan fardlu tersebut. Waktu 2 rowatib tersebut keluar dengan keluarnya waktu fardlu tersebut.
(Nihayatus Zein hal. 99 – 101)

Minggu, 20 November 2011

SHOLAT

19 Dzulhijjah 1432 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
15 Nopember 2011 M



1) Allah SWT berfirman : (Minta bantuan) carilah bantuan dalam urusanmu. (dengan bersabar) mencegah hawa nafsu dari hal-hal yang tidak disenangi (atau dengan sholat) hanya sholat yang disebutkan secara khusus dari pada jenis ibadah yang lain karena memuliakan ibadah sholat, oleh karena itu apabila Nabi Muhammad SAW ketika ditimpa masalah berat maka bergegas untuk menjalankan sholat. (Karena sesungguhnya sholat adalah perkara besar) maksudnya sholat itu adalah masalah yang sulit dan berat (kecuali untuk orang yang hatinya khusuk) yaitu orang yang selamat dalam berbuat ketaatan.

2) Keharusan melaksanakan sholat adalah perkara yang sulit kecuali bagi orang yang hatinya khusuk untuk Allah SWT dan merasa takut dengan siksanya, menampakkan keimanan dari dalam hatinya dan meyakini akan bertemu dengan Allah SWT untuk dihitung amalnya. Maka mereka bergegas untuk melaksanakan sholat agar jiwanya tenang, hatinya tentram, pikirannya tenang dan menghilangkan beban dari segala masalah. Nabi Muhammad SAW bersabda : “yang paling aku cintai dari urusan dunia mu adalah perempuan dan minyak wangi. ketenangan hatiku dibuat didalam sholat.” (HR. Imam Ahmad dari Anas bin Malik) Tafsir Munir Juz 1 – hal 154 – 156

SHOLAT DI DALAM MASJID

3) Dari Abu Hurairoh ra. sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya para Malaikat memanjatkan doa untuk seseorang diantara kalian selama dia di dalam tempat sholatnya yang menjadi tempat sholatnya selama dia belum batal, Malaikat berdoa yang artinya “Ampunilah dia, dan berilah rahmat kepadanya”

4) Yang dimaksud tempat sholat menurut sebagian besar para ulama’ hanya tempat sujud dan ruku’ bukan masjid yang lain. Seandainya dia berpindah ke kiri dan ke kanan maka kebaikannya hilang. Yang dimaksud kebaikan adalah doa para Malaikat. Menurut Qodi’iyat yang dimaksud tempat sholat adalah masjid yang sebenarnya sekalipun dia pindah dari tempatnya ke tempat yang lain, kalau bukan begitu maka imam yang pindah tempat akan kehilangan kebaikan yang banyak. Menurut dhohir hadits adalah sholat secara mutlak baik fardlu maupun sunnah. (yang dimaksud belum batal) seandainya dia telah batal maka doa Malaikat diharamkan sekalipun dia tetap dalam posisi duduk. (Kitab Abi Jamroh hal. 48)

Minggu, 17 Juli 2011

16 Sya’ban 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
27 Juli 2010 M



“BULAN ROMADHON”

1. Dari Ibnu Umar berkata, “Bulan puasa dinamakan Romadhon karena sesungguhnya dosa-dosa hangus dalam bulan Romadhon”.

2. Dari Anas Rasulullah SAW bersabda, “Bahwasanya bulan puasa dinamakan Romadhon karena sesungguhnya bulan Romadhon menghanguskan dosa-dosa.”

3. Dari Abu Hurairoh Rasulullah SAW bersabda “Sholat lima waktu dan sholat Jum’at serta Jum’at yang akan datang begipun bagi bulan Romadhon serta bulan Romadhon yang akan datang merupakan penebus-penebus dosa disela-sela waktu tersebut selagi dosa besar dijauhi.”

4. Dari Jabbir bin Abdillah Rasulullah SAW bersabda, “Umat ku pada bulan Romadhon diberi lima perkara yang mana Nabi-nabi sebelum aku tidak diberinya, adapun yang pertama “bahwasanya apabila pada awal malam dari bulan Romadhon Allah memandang dengan Rahmat-Nya kepada umat ku, dan barangsiapa yang dipandang dengan Rahmat Allah niscaya Allah SWT tidak akan mengadzabnya untuk selamanya.” Kedua “Bahwasanya bau mulut orang-orang yang berpuasa ketika saat sore itu lebih wangi bagi Allah SWT dari pada minyak kasturi.” Ketiga “sesungguhnya para malaikat memintakan ampun bagi orang-orang yang berpuasa setiap pagi dan malam.” Keempat “Sesungguhnya Allah SWT meminta kepada surga-Nya seraya berfirman “Bersiap-siaplah engkau dan berhiaslah engkau untuk hamba-hambaku tidak lama lagi mereka akan melepaskan lelah dari kepenatan dunia menuju negeri – Ku dan kemuliaan – ku.” Kelima “Apabila pada akhir malam bulan Romadhon maka Allah SWT mengampuni mereka yang menjalankan ibadah puasa semuanya.” Ada seseorang bertanya “apakah malam tersebut malam lailatul qodar?”, maka Nabi menjawab “Tidak!, tidakkah engkau melihat orang-orang yang sedang bekerja apabila telah selesai dari pekerjaannya maka dipenuhi ganjaran-ganjaran mereka?”
(Tafsir Addzur Mansyur jus 1, hal. 334)

Senin, 20 Juni 2011

kitab-kitab Syi'ah Rofidho

19 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
21 Juni 2011 M


“KITAB-KITAB SYI’AH ROFIDHOH”

1) Hanan dari orang tuanya, dari Abu Ja’far, Hanan berkata, Aku bertanya kepada Abu Ja’far, “Apakah anak Nabi Ya’kub menjadi Nabi?,” Abu Ja’far menjawab, “Bukan, tetapi mereka adalah keturunan Anak para Nabi, mereka tidak meninggalkan urusan dunia kecuali orang yang beruntung, yaitu mereka yang bertobat dan mengingat kesalahan apa yang telah dikerjakan. Sedangkan dua orang tua (Abu Bakar ra & Umar ra) dia meninggal dunia sebelum bertobat dan tidak mau mengingat kesalahan apa yang dia kerjakan terhadap Syaidina Ali ra. Maka dia berdua harus mendapat kutukan dari Allah SWT, Malaikat dan Manusia seluruhnya.
(Kitab Raudlotul Kaafi juz 8 – hal 168)

2) Diceritakan kepada kami dari Muhammad bin Miskin yaitu Abu Hasan, dari Said bin Musyayab. Berkata Abu Said Al Musyayab, “Abu Musa Al Asy’ari memberi kabar kepada aku bahwa sesungguhnya Abu Musa telah berwudlu dirumahnya kemudian dia keluar lalu Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Aku selalu mengikuti Rasulullah SAW dan aku menjadi juru kunci rumah Rasulullah SAW.” Pada suatu hari Abu Bakar datang seraya mengetuk pintu kemudian aku bertanya “Siapa ini?”, maka dia menjawab “Abu Bakar!”, dan aku berkata “Sebentar”, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Ini Abu Bakar, mau minta ijin masuk”, Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Berilah ijin untuk masuk dan kabarkanlah kepada dia, kalau dia (Abu Bakar) akan masuk surga.” Kemudian aku mendatangi Abu Bakar sambil berkata kepada Abu Bakar, “Silakan masuk!, karena Rasulullah telah memberi kabar kepadamu kalau kamu akan masuk surga.” Maka Abu Bakar masuk dan dia duduk disamping kanan Rasulullah SAW. Tidak lama kemudian ada seorang yang menggerakkan pintu, maka Aku berkata, “Siapa ini?, maka dia menjawab Umar bin Khottob ra.” Aku berkata sebentar, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW seraya mengucap salam kepada beliau dan aku berkata, “Ini adalah Umar bin Khottob!, mau minta ijin untuk masuk”. Rasulullah SAW menjawab “Berilah ijin kepada Umar bin Khottob untuk masuk dan berilah kabar gembira kalau dia akan masuk surga”. Kemudian aku mendatanginya sambil berkata. “Masuklah! Rasulullah SAW telah memberi kabar gembira kepada mu kalau kamu akan masuk surga.” Maka Syaidina Umar masuk dan duduk disamping kiri Rasulullah SAW, dan menjulurkan kedua kakinya kearah sumur. Kemudian aku kembali ke tempatku sambil duduk seraya mengucapkan “Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan terhadap seseorang maka Allah SWT akan mendatangkan orang tersebut kepada Rasulullah SAW. Kemudian datanglah seseorang sambil menggerakkan pintu, kemudian aku berkata, “Siapa ini?”, maka orang tersebut menjawab, “Utsman bin Affan”. Maka aku menjawab, “sebentar” dan aku mendatangi Rasulullah sambil memberitahukan bahwa Utsman bin Affan mau masuk. Maka Rasulullah SAW menjawab, “Berilah ijin kepadanya untuk masuk, dan berilah kabar gembira kalau dia masuk surga karena musibah yang menimpanya.” Maka aku mendatangi Utsman bin Affan seraya berkata kepadanya “Silahkan masuk! Sedangkan Rasulullah SAW telah memberi kabar kepadamu kalau kamu masuk surga karena musibah yang menimpamu”. (Al Hadits)

Senin, 13 Juni 2011

Keutamaan Kalimat laaillahaillallah

12 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
14 Juni 2011 M


“Keutamaan kalimat Laaillahailallah”

1) Dari Abu Hurarairoh ra. berkata, “Aku bertanya wahai Rasulullah SAW siapakah orang yang paling beruntung mendapat syafa’at mu pada hari kiamat?, Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Abu Hurairoh, aku telah mengira tidak ada seorang yang pertama kali yang bertanya tentang cerita ini karena aku tidak melihat kamu berkeinginan bertanya tentang ini. Manusia yang paling beruntung mendapat syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang membaca Laaillahailallah dengan tulus ikhlas dari hati atau jiwanya.”:

2) Hadits yang datang Anas bin Malik, bahwa barangsiapa yang membaca Laailahailallah dengan memperpanjang bacaannya, maka dosa empat ribu macam akan pasti dihapus termasuk dosa besar. Lalu Rasulullah SAW ditanya, “Seandainya tidak punya dosa besar?,” Rasulullah menjawab, “Dosa-dosa kedua orang tua,keluarganya serta dosa-dosa tetangganya.”

3) Dan juga Hadits dari Anas bin Malik beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, ketika seorang hamba yang beriman membaca Laailahailallah maka beberapa langit akan terbakar sehingga langit bersimpuh dihadapan Allah SWT. Kemudian Allah SWT berfirman “berhentilah wahai langit!”, lalu Langit berkata, “Bagaimana aku berhenti sedangkan Engkau masih belum mengampuni orang yang membaca Laailahailallah” maka Allah SWT berfirman, “Aku tidak akan menggerakkan kamu karena bacaannya hambaku yang mukmin kecuali Aku telah mengampuni hambaku yang mukmin.” (Abu Jamroh hal. 35)

4) Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketakutan bagi orang yang senang membaca Laailahailallah ketika akan mati, di alam kubur dan dipadang mahsyar, seakan-akan Aku (Nabi SAW) melihat kepada mereka ketika suara terompet yang pertama mereka menampakkan kepalanya dari dalam tanah seraya berkata “segalah puji bagi Allah SWT yang telah menghilangkan kesusahan dari kami, sesungguhnya Tuhan kami adalah Maha Pengampun dan Maha Berterima kasih.” (HR Thobroni dari Ibnu Umar, Tafsir Munir juz 22 - hal. 268)

5) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”

Dari Abi Dzarrin, Aku bertanya “Wahai Rasulullah SAW apakah bacaan Laailahailallah termasuk kebaikan?” Rasulullah SAW menjawab, “Kalimat Laailahailallah adalah kebaikan yang paling utama.” (Tafsir Dzur Mansyur juz 4 – Hal 640)

MASJID AGUNG BANGIL

MASJID AGUNG BANGIL MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA SEMUA KALANGAN AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH