19 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
21 Juni 2011 M
“KITAB-KITAB SYI’AH ROFIDHOH”
1) Hanan dari orang tuanya, dari Abu Ja’far, Hanan berkata, Aku bertanya kepada Abu Ja’far, “Apakah anak Nabi Ya’kub menjadi Nabi?,” Abu Ja’far menjawab, “Bukan, tetapi mereka adalah keturunan Anak para Nabi, mereka tidak meninggalkan urusan dunia kecuali orang yang beruntung, yaitu mereka yang bertobat dan mengingat kesalahan apa yang telah dikerjakan. Sedangkan dua orang tua (Abu Bakar ra & Umar ra) dia meninggal dunia sebelum bertobat dan tidak mau mengingat kesalahan apa yang dia kerjakan terhadap Syaidina Ali ra. Maka dia berdua harus mendapat kutukan dari Allah SWT, Malaikat dan Manusia seluruhnya.
(Kitab Raudlotul Kaafi juz 8 – hal 168)
2) Diceritakan kepada kami dari Muhammad bin Miskin yaitu Abu Hasan, dari Said bin Musyayab. Berkata Abu Said Al Musyayab, “Abu Musa Al Asy’ari memberi kabar kepada aku bahwa sesungguhnya Abu Musa telah berwudlu dirumahnya kemudian dia keluar lalu Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Aku selalu mengikuti Rasulullah SAW dan aku menjadi juru kunci rumah Rasulullah SAW.” Pada suatu hari Abu Bakar datang seraya mengetuk pintu kemudian aku bertanya “Siapa ini?”, maka dia menjawab “Abu Bakar!”, dan aku berkata “Sebentar”, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Ini Abu Bakar, mau minta ijin masuk”, Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Berilah ijin untuk masuk dan kabarkanlah kepada dia, kalau dia (Abu Bakar) akan masuk surga.” Kemudian aku mendatangi Abu Bakar sambil berkata kepada Abu Bakar, “Silakan masuk!, karena Rasulullah telah memberi kabar kepadamu kalau kamu akan masuk surga.” Maka Abu Bakar masuk dan dia duduk disamping kanan Rasulullah SAW. Tidak lama kemudian ada seorang yang menggerakkan pintu, maka Aku berkata, “Siapa ini?, maka dia menjawab Umar bin Khottob ra.” Aku berkata sebentar, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW seraya mengucap salam kepada beliau dan aku berkata, “Ini adalah Umar bin Khottob!, mau minta ijin untuk masuk”. Rasulullah SAW menjawab “Berilah ijin kepada Umar bin Khottob untuk masuk dan berilah kabar gembira kalau dia akan masuk surga”. Kemudian aku mendatanginya sambil berkata. “Masuklah! Rasulullah SAW telah memberi kabar gembira kepada mu kalau kamu akan masuk surga.” Maka Syaidina Umar masuk dan duduk disamping kiri Rasulullah SAW, dan menjulurkan kedua kakinya kearah sumur. Kemudian aku kembali ke tempatku sambil duduk seraya mengucapkan “Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan terhadap seseorang maka Allah SWT akan mendatangkan orang tersebut kepada Rasulullah SAW. Kemudian datanglah seseorang sambil menggerakkan pintu, kemudian aku berkata, “Siapa ini?”, maka orang tersebut menjawab, “Utsman bin Affan”. Maka aku menjawab, “sebentar” dan aku mendatangi Rasulullah sambil memberitahukan bahwa Utsman bin Affan mau masuk. Maka Rasulullah SAW menjawab, “Berilah ijin kepadanya untuk masuk, dan berilah kabar gembira kalau dia masuk surga karena musibah yang menimpanya.” Maka aku mendatangi Utsman bin Affan seraya berkata kepadanya “Silahkan masuk! Sedangkan Rasulullah SAW telah memberi kabar kepadamu kalau kamu masuk surga karena musibah yang menimpamu”. (Al Hadits)
Konon menurut cerita orang-orang tua,bahwa Masjid Agung Bangil adalah sebuah masjid Tiban(tiba-tiba muncul)dengan ukuran 22m x 22m. dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dan ada 4 tiang penyangga utama yang kenal sebagai soko wolu . Menurut artifak yang ada di mihrob,tertulis tahun 1287 H
Senin, 20 Juni 2011
Senin, 13 Juni 2011
Keutamaan Kalimat laaillahaillallah
12 Rajab 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
14 Juni 2011 M
“Keutamaan kalimat Laaillahailallah”
1) Dari Abu Hurarairoh ra. berkata, “Aku bertanya wahai Rasulullah SAW siapakah orang yang paling beruntung mendapat syafa’at mu pada hari kiamat?, Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Abu Hurairoh, aku telah mengira tidak ada seorang yang pertama kali yang bertanya tentang cerita ini karena aku tidak melihat kamu berkeinginan bertanya tentang ini. Manusia yang paling beruntung mendapat syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang membaca Laaillahailallah dengan tulus ikhlas dari hati atau jiwanya.”:
2) Hadits yang datang Anas bin Malik, bahwa barangsiapa yang membaca Laailahailallah dengan memperpanjang bacaannya, maka dosa empat ribu macam akan pasti dihapus termasuk dosa besar. Lalu Rasulullah SAW ditanya, “Seandainya tidak punya dosa besar?,” Rasulullah menjawab, “Dosa-dosa kedua orang tua,keluarganya serta dosa-dosa tetangganya.”
3) Dan juga Hadits dari Anas bin Malik beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, ketika seorang hamba yang beriman membaca Laailahailallah maka beberapa langit akan terbakar sehingga langit bersimpuh dihadapan Allah SWT. Kemudian Allah SWT berfirman “berhentilah wahai langit!”, lalu Langit berkata, “Bagaimana aku berhenti sedangkan Engkau masih belum mengampuni orang yang membaca Laailahailallah” maka Allah SWT berfirman, “Aku tidak akan menggerakkan kamu karena bacaannya hambaku yang mukmin kecuali Aku telah mengampuni hambaku yang mukmin.” (Abu Jamroh hal. 35)
4) Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketakutan bagi orang yang senang membaca Laailahailallah ketika akan mati, di alam kubur dan dipadang mahsyar, seakan-akan Aku (Nabi SAW) melihat kepada mereka ketika suara terompet yang pertama mereka menampakkan kepalanya dari dalam tanah seraya berkata “segalah puji bagi Allah SWT yang telah menghilangkan kesusahan dari kami, sesungguhnya Tuhan kami adalah Maha Pengampun dan Maha Berterima kasih.” (HR Thobroni dari Ibnu Umar, Tafsir Munir juz 22 - hal. 268)
5) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”
Dari Abi Dzarrin, Aku bertanya “Wahai Rasulullah SAW apakah bacaan Laailahailallah termasuk kebaikan?” Rasulullah SAW menjawab, “Kalimat Laailahailallah adalah kebaikan yang paling utama.” (Tafsir Dzur Mansyur juz 4 – Hal 640)
14 Juni 2011 M
“Keutamaan kalimat Laaillahailallah”
1) Dari Abu Hurarairoh ra. berkata, “Aku bertanya wahai Rasulullah SAW siapakah orang yang paling beruntung mendapat syafa’at mu pada hari kiamat?, Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Abu Hurairoh, aku telah mengira tidak ada seorang yang pertama kali yang bertanya tentang cerita ini karena aku tidak melihat kamu berkeinginan bertanya tentang ini. Manusia yang paling beruntung mendapat syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang membaca Laaillahailallah dengan tulus ikhlas dari hati atau jiwanya.”:
2) Hadits yang datang Anas bin Malik, bahwa barangsiapa yang membaca Laailahailallah dengan memperpanjang bacaannya, maka dosa empat ribu macam akan pasti dihapus termasuk dosa besar. Lalu Rasulullah SAW ditanya, “Seandainya tidak punya dosa besar?,” Rasulullah menjawab, “Dosa-dosa kedua orang tua,keluarganya serta dosa-dosa tetangganya.”
3) Dan juga Hadits dari Anas bin Malik beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, ketika seorang hamba yang beriman membaca Laailahailallah maka beberapa langit akan terbakar sehingga langit bersimpuh dihadapan Allah SWT. Kemudian Allah SWT berfirman “berhentilah wahai langit!”, lalu Langit berkata, “Bagaimana aku berhenti sedangkan Engkau masih belum mengampuni orang yang membaca Laailahailallah” maka Allah SWT berfirman, “Aku tidak akan menggerakkan kamu karena bacaannya hambaku yang mukmin kecuali Aku telah mengampuni hambaku yang mukmin.” (Abu Jamroh hal. 35)
4) Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketakutan bagi orang yang senang membaca Laailahailallah ketika akan mati, di alam kubur dan dipadang mahsyar, seakan-akan Aku (Nabi SAW) melihat kepada mereka ketika suara terompet yang pertama mereka menampakkan kepalanya dari dalam tanah seraya berkata “segalah puji bagi Allah SWT yang telah menghilangkan kesusahan dari kami, sesungguhnya Tuhan kami adalah Maha Pengampun dan Maha Berterima kasih.” (HR Thobroni dari Ibnu Umar, Tafsir Munir juz 22 - hal. 268)
5) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”
Dari Abi Dzarrin, Aku bertanya “Wahai Rasulullah SAW apakah bacaan Laailahailallah termasuk kebaikan?” Rasulullah SAW menjawab, “Kalimat Laailahailallah adalah kebaikan yang paling utama.” (Tafsir Dzur Mansyur juz 4 – Hal 640)
Selasa, 31 Mei 2011
Aqidah Syi'ah
27 Jumaadil Akhir 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
31 Mei 2011 M
AQIDAH SYI”AH DALAM KITAB MIZAN
OLEH DR. MOH. KAMIL AL HASYIMI
1) Syech At Thusyi dan Nu’man meriwayatkan hadits dari Imam Ali Ridho as, “Sesunggunya setengah daripada tanda-tanda keluarnya Imam Mahdi, bahwa beliau tampak dalam keadaan telanjang didepan bulatan matahari.” (Kitab Haqul Yakin hal. 347)
Tanda penghinaan yang mana lebih besar dan tanda fitnah yang mana lebih keji dari hal tersebut diatas? Apakah dia (Imam Mahdi) akan baiat kepada Rasulullah SAW padahal dia adalah Mahdi kalian yang ditunggu-tunggu, yaitu orang yang kalian tidak mengenal bapak baginya?. Mahdi mana orang ini, yang bakal tampak dalam keadaan telanjang dibawah bulatan matahari yang tidak ada penutup atau pakaian yang menutupinya?, dan sekalipun tidak ada kegelapan malam yang sangat gelap gulita (menutupi)?. Bagaimana Rasulullah SAW membaiatnya dalam keadaan yang sangat memalukan ini?. Apakah yang ini dinamakan agama Wahai Syi’ah?, agama mana yang kita mungkin menamakannya sebagai agama?.
2) Dalam tafsir Manhaj Ashodiq Syech Fatchullah Kasyani, “Sesungguhnya mencintai Ali ra adalah perbuatan baik, yang mana tidak akan memudlorotkan suatu kejahatan yang menyertai kebaikan tersebut, beliau berkata, “Sesungguhnya cinta kami kepada Ahlul Bait adalah untuk menghilangkan dosa-dosa dari sekalian hamba, sebagaimana angin bisa menggugurkan daun dari pohon.”
3) Seandainya semata-mata cinta itu merupakan kebaikan yang tidak akan memudlorotkan suatu kejahatan yang menyertai kebaikan tersebut, maka kebutuhan mana yang tersisa untuk tetapnya syariat hukum-hukum. Apakah cinta kepada Ali ra dan Imam-imam itu lebih penting disisi Allah SWT dari pada taat-Nya, dan mengamalkan segalah bentuk perintah agama Allah SWT?. Apabila cinta kepada Allah dan Rasul-Nya belum cukup dalam kesalaman dari adzab tanpa beriman dan beramal sholeh, bagaimana cinta kepada Ali bisa mencukupi dari pada amal sholeh dan menggugurkan amal jahat?.” (Kitab Bayinah Sunni wa Syi’ah hal. 34)
31 Mei 2011 M
AQIDAH SYI”AH DALAM KITAB MIZAN
OLEH DR. MOH. KAMIL AL HASYIMI
1) Syech At Thusyi dan Nu’man meriwayatkan hadits dari Imam Ali Ridho as, “Sesunggunya setengah daripada tanda-tanda keluarnya Imam Mahdi, bahwa beliau tampak dalam keadaan telanjang didepan bulatan matahari.” (Kitab Haqul Yakin hal. 347)
Tanda penghinaan yang mana lebih besar dan tanda fitnah yang mana lebih keji dari hal tersebut diatas? Apakah dia (Imam Mahdi) akan baiat kepada Rasulullah SAW padahal dia adalah Mahdi kalian yang ditunggu-tunggu, yaitu orang yang kalian tidak mengenal bapak baginya?. Mahdi mana orang ini, yang bakal tampak dalam keadaan telanjang dibawah bulatan matahari yang tidak ada penutup atau pakaian yang menutupinya?, dan sekalipun tidak ada kegelapan malam yang sangat gelap gulita (menutupi)?. Bagaimana Rasulullah SAW membaiatnya dalam keadaan yang sangat memalukan ini?. Apakah yang ini dinamakan agama Wahai Syi’ah?, agama mana yang kita mungkin menamakannya sebagai agama?.
2) Dalam tafsir Manhaj Ashodiq Syech Fatchullah Kasyani, “Sesungguhnya mencintai Ali ra adalah perbuatan baik, yang mana tidak akan memudlorotkan suatu kejahatan yang menyertai kebaikan tersebut, beliau berkata, “Sesungguhnya cinta kami kepada Ahlul Bait adalah untuk menghilangkan dosa-dosa dari sekalian hamba, sebagaimana angin bisa menggugurkan daun dari pohon.”
3) Seandainya semata-mata cinta itu merupakan kebaikan yang tidak akan memudlorotkan suatu kejahatan yang menyertai kebaikan tersebut, maka kebutuhan mana yang tersisa untuk tetapnya syariat hukum-hukum. Apakah cinta kepada Ali ra dan Imam-imam itu lebih penting disisi Allah SWT dari pada taat-Nya, dan mengamalkan segalah bentuk perintah agama Allah SWT?. Apabila cinta kepada Allah dan Rasul-Nya belum cukup dalam kesalaman dari adzab tanpa beriman dan beramal sholeh, bagaimana cinta kepada Ali bisa mencukupi dari pada amal sholeh dan menggugurkan amal jahat?.” (Kitab Bayinah Sunni wa Syi’ah hal. 34)
20 Jumaadil Akhir 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
24 Mei 2011 M
1) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jagalah para sahabatku dan mertuaku serta pelindungku, barangsiapa yang menjaga mereka (sahabat, mertua dan pelindungku) maka dia akan dijaga oleh Allah SWT di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang tidak menjaga mereka, maka dia akan ditinggal oleh Allah SWT, barangsiapa yang ditinggal oleh Allah SWT, maka dia sangat dengat untuk mendapat siksa.” (HR. Ibnu As-syaqir)
2) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila Allah SWT berkehendak untuk menjadikan seseorang menjadi baik dari umatku, maka Allah SWT memberi rasa cinta kepada para sahabat ke dalam hatinya.” (HR. Addhailami dari Anas bin Malik ra)
3) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang mencaci maki para sahabatku, maka berkatalah kalian kepada mereka “mudah-mudahan kamu dikutuk oleh Allah SWT karena kejahatanmu!” (HR. Al Khotib dari Ibnu Umar ra)
4) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya umatku yang paling jelek adalah orang yang berani berkata kotor kepada para sahabatku.” (HR. Ibnu Addy dari Aisyah ra) Kitab As-showaiq hal 11 – 12
5) Ad Daruqudni menceritakan dari Ja’far As Shoddiq dari bapaknya Muhammad Al Bakir, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang ke bapaknya Muhammad Al Bakir yang bernama Ali bin Husien yang bergelar Zainul Abidin, maka orang-orang laki-laki tersebut berkata, “Wahai Ali ceritakanlah kepada saya, tentang Abu Bakar ra.?, Maka Ali menjawab, “Abu Bakar termasuk orang yang paling jujur.” Kemudian orang laki-laki tersebut bertanya lagi, “Mengapa kalian memberi nama Abu Bakar sebagai orang paling jujur?” Ali menjawab, “Mudah-mudahan kamu diusir oleh Ibumu!. Sesungguhnya Rasulullah SAW, dan para kaum muhajirin serta kaum Anshor telah memberi gelar Abu Bakar dengan gelar “As – Shiddiq”. Barangsiapa yang tidak memberi gelar kepada Abu Bakar dengan gelar As – Shiddiq, maka ucapannya tidak dibenarkan oleh Allah SWT baik di dunia dan diakhirat. Ali berkata lagi, “Pergilah dariku dan cintailah Abu Bakar ra dan Umar ra.” (Kitab As – Showaiq hal. 78 – 79)
24 Mei 2011 M
1) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jagalah para sahabatku dan mertuaku serta pelindungku, barangsiapa yang menjaga mereka (sahabat, mertua dan pelindungku) maka dia akan dijaga oleh Allah SWT di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang tidak menjaga mereka, maka dia akan ditinggal oleh Allah SWT, barangsiapa yang ditinggal oleh Allah SWT, maka dia sangat dengat untuk mendapat siksa.” (HR. Ibnu As-syaqir)
2) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila Allah SWT berkehendak untuk menjadikan seseorang menjadi baik dari umatku, maka Allah SWT memberi rasa cinta kepada para sahabat ke dalam hatinya.” (HR. Addhailami dari Anas bin Malik ra)
3) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang mencaci maki para sahabatku, maka berkatalah kalian kepada mereka “mudah-mudahan kamu dikutuk oleh Allah SWT karena kejahatanmu!” (HR. Al Khotib dari Ibnu Umar ra)
4) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya umatku yang paling jelek adalah orang yang berani berkata kotor kepada para sahabatku.” (HR. Ibnu Addy dari Aisyah ra) Kitab As-showaiq hal 11 – 12
5) Ad Daruqudni menceritakan dari Ja’far As Shoddiq dari bapaknya Muhammad Al Bakir, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang ke bapaknya Muhammad Al Bakir yang bernama Ali bin Husien yang bergelar Zainul Abidin, maka orang-orang laki-laki tersebut berkata, “Wahai Ali ceritakanlah kepada saya, tentang Abu Bakar ra.?, Maka Ali menjawab, “Abu Bakar termasuk orang yang paling jujur.” Kemudian orang laki-laki tersebut bertanya lagi, “Mengapa kalian memberi nama Abu Bakar sebagai orang paling jujur?” Ali menjawab, “Mudah-mudahan kamu diusir oleh Ibumu!. Sesungguhnya Rasulullah SAW, dan para kaum muhajirin serta kaum Anshor telah memberi gelar Abu Bakar dengan gelar “As – Shiddiq”. Barangsiapa yang tidak memberi gelar kepada Abu Bakar dengan gelar As – Shiddiq, maka ucapannya tidak dibenarkan oleh Allah SWT baik di dunia dan diakhirat. Ali berkata lagi, “Pergilah dariku dan cintailah Abu Bakar ra dan Umar ra.” (Kitab As – Showaiq hal. 78 – 79)
Selasa, 10 Mei 2011
1) Said Umar Al Hasyimi Al Hadromi dari penduduk Bairut dia pernah berkumpul dengan orang-orang Syi’ah di sebuah gunung bernama Amilah, maka sebagian orang Syi’ah berkata kepada beliau bahwa kami ini membenci Abu Bakar karena Abu Bakar ra mendahului menjadi kholifah dari pada Ali bin Abi Tholib ra.dan kami membenci kepada Malaikat Jibril karena Malaikat Jibril telah menyampaikan risalah kepada Muhammad dan tidak menyampaikan kepada Ali bin Abi Tholib ra. Dan kami benci kepada Muhammad karena dia telah mendahulukan Abu Bakar ra, sebagai pengganti imam dalam sholat tidak memilih Ali bin Abi Tholib ra. Dan kami benci kepada Ali bin Abi Tholib ra. karena dia diam untuk menggambil hak nya dari Abu Bakar ra. padahal dia (Ali ra) mampu untuk melakukannya dan kami benci kepada Allah SWT karena Allah SWT menggangkat Muhammad sebagai utusan dan tidak mengangkat Ali ra sebagai utusan.
Lihatlah omongan orang Rofidhoh ini!
yang dikutuk oleh Allah SWT. Kami (Said Umar)berlindung kepada Allah SWT dari agama orang ini (Rofidhoh). Dan tidak diragukan lagi sesungguhnya Dia (Rofidhoh) lebih jahat dari pada iblis yang terkutuk, yang mana Allah SWT telah menjauhkan dari Rahmat-Nya. Karena sesungguhnya Iblis tidak benci kepada Allah SWT. Tetapi kami berkata kepada orang Rofidoh, “Seandainya Jibril salah atau tidak mengerjakan perintah Tuhannya, kenapa Allah SWT tidak menyiksa Malaikat Jibril dan kenapa Allah SWT mengistimewakan Muhammad SAW dengan berbagai mukjizat yang jumlahnya tidak bisa dihitung, atau kenapa Syaidina Ali ra tidak mendapatkan keistimewaan?.” (Kitab Arroatul Ghomidhoh hal. 22)
Lihatlah omongan orang Rofidhoh ini!
yang dikutuk oleh Allah SWT. Kami (Said Umar)berlindung kepada Allah SWT dari agama orang ini (Rofidhoh). Dan tidak diragukan lagi sesungguhnya Dia (Rofidhoh) lebih jahat dari pada iblis yang terkutuk, yang mana Allah SWT telah menjauhkan dari Rahmat-Nya. Karena sesungguhnya Iblis tidak benci kepada Allah SWT. Tetapi kami berkata kepada orang Rofidoh, “Seandainya Jibril salah atau tidak mengerjakan perintah Tuhannya, kenapa Allah SWT tidak menyiksa Malaikat Jibril dan kenapa Allah SWT mengistimewakan Muhammad SAW dengan berbagai mukjizat yang jumlahnya tidak bisa dihitung, atau kenapa Syaidina Ali ra tidak mendapatkan keistimewaan?.” (Kitab Arroatul Ghomidhoh hal. 22)
29 Jumaadil Awal 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
3 Mei 2011 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Para Ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah telah berkata, “barangsiapa yang berkeyakinan dalam Al qur’an yang telah dikumpulkan oleh para sahabat ra. Diantara dua sisi sampul bahwasanya Al qur’an tersebut telah dirubah yangmana telah ditambah didalamnya sesuatu yang bukan dari Al qur’an atau dikurangi, diganti, atau tidak dipercaya kepada sesuatu yang telah diterangkan dalam Al qur’an baik itu hukum atau cerita yang telah ditetapkan dalam Al qur’an, atau menetapkan sesuatu yang tidak terdapat dalam Al qur’an, atau meniadakan apa yang sudah ada di dalam Al qur’an dengan sepengatahuan dari semua itu, maka orang itu kafir hukumnya dengan kesepakatan para ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Al qur’an itu adalah merupakan kitab dari Dzat Yang Maha Mulia yang tidak tercampur dengan kekotoran dari depan-Nya atau dari belakang-Nya” (QS Fusilat ayat 41 – 42)
Maka dengan kesepakatan para ulama’ Al qur’an adalah terpelihara dari penambahan, pengurangan, perubahan, pergantian, dan penghilangan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al qur’an dan Kami yang menjaganya,” Inilah sikap Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dan ini menjadi keyakinan Ulama’ Ahlussunnah Wal jama’ah dalam masalah Al qur’an.
Adapun sikap kelompok Syi’ah mereka berpendirian untuk meragukan dan menghilangkan serta menuduh bahwa Al qur’an telah bertambah dan berkurang. Mudah-mudahan Allah SWT menjaga kami dari keraguan-keraguan yang jelas. (Kitab Al Ajwibah Dhamighoh hal. 19)
Al Qur’an Menurut Syi’ah
Surat Annur
1) Wahai orang-orang yang beriman dengan dua cahaya kami telah menurunkan keduanya kepadamu, ayat-ayatku dan keduanya menakut-nakuti dengan siksaan yang besar. Dua cahaya satu sama lain saling menyatu Aku adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Orang-orang yang menempati janji Allah dan Rosul-Nya dalam ayat-ayat-Nya mereka mendapatkan surga Naim. Dan orang-orang yang kafir setelah beriman mereka memutuskan perjanjian atas apa yang telah mereka janjikan kepada Rasul mereka dilemparkan ke neraka jahim. Mereka mendholimi dirinya sendiri dan durhaka kepada orang yang mendapat wasiat dari Rasul, maka mereka akan diberi minum dari air panas.
2) Allah SWT berfirman, “Manusia dan Jin tidak akan ditanya tentang dosanya dari pada kamu, maka Aku bertanya dosa yang bukan dari kamu, Allah menjawab Ya, tetapi dosanya itu dihapus oleh Ibnu Aruwi.” (Kitab Fashul Khitob hal. 157)
3 Mei 2011 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Para Ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah telah berkata, “barangsiapa yang berkeyakinan dalam Al qur’an yang telah dikumpulkan oleh para sahabat ra. Diantara dua sisi sampul bahwasanya Al qur’an tersebut telah dirubah yangmana telah ditambah didalamnya sesuatu yang bukan dari Al qur’an atau dikurangi, diganti, atau tidak dipercaya kepada sesuatu yang telah diterangkan dalam Al qur’an baik itu hukum atau cerita yang telah ditetapkan dalam Al qur’an, atau menetapkan sesuatu yang tidak terdapat dalam Al qur’an, atau meniadakan apa yang sudah ada di dalam Al qur’an dengan sepengatahuan dari semua itu, maka orang itu kafir hukumnya dengan kesepakatan para ulama’ Ahlusunnah Wal Jama’ah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Al qur’an itu adalah merupakan kitab dari Dzat Yang Maha Mulia yang tidak tercampur dengan kekotoran dari depan-Nya atau dari belakang-Nya” (QS Fusilat ayat 41 – 42)
Maka dengan kesepakatan para ulama’ Al qur’an adalah terpelihara dari penambahan, pengurangan, perubahan, pergantian, dan penghilangan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al qur’an dan Kami yang menjaganya,” Inilah sikap Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dan ini menjadi keyakinan Ulama’ Ahlussunnah Wal jama’ah dalam masalah Al qur’an.
Adapun sikap kelompok Syi’ah mereka berpendirian untuk meragukan dan menghilangkan serta menuduh bahwa Al qur’an telah bertambah dan berkurang. Mudah-mudahan Allah SWT menjaga kami dari keraguan-keraguan yang jelas. (Kitab Al Ajwibah Dhamighoh hal. 19)
Al Qur’an Menurut Syi’ah
Surat Annur
1) Wahai orang-orang yang beriman dengan dua cahaya kami telah menurunkan keduanya kepadamu, ayat-ayatku dan keduanya menakut-nakuti dengan siksaan yang besar. Dua cahaya satu sama lain saling menyatu Aku adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Orang-orang yang menempati janji Allah dan Rosul-Nya dalam ayat-ayat-Nya mereka mendapatkan surga Naim. Dan orang-orang yang kafir setelah beriman mereka memutuskan perjanjian atas apa yang telah mereka janjikan kepada Rasul mereka dilemparkan ke neraka jahim. Mereka mendholimi dirinya sendiri dan durhaka kepada orang yang mendapat wasiat dari Rasul, maka mereka akan diberi minum dari air panas.
2) Allah SWT berfirman, “Manusia dan Jin tidak akan ditanya tentang dosanya dari pada kamu, maka Aku bertanya dosa yang bukan dari kamu, Allah menjawab Ya, tetapi dosanya itu dihapus oleh Ibnu Aruwi.” (Kitab Fashul Khitob hal. 157)
Rabu, 27 April 2011
Al - Qur'an
22 Jumaadil Awal 1431 H Pengasuh : Ust. HM. Nur Cholis Musytari
29 April 2010 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka Berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui.” (QS. Al Imran ayat 78)
2) Allah SWT memberitahu tentang Yahudi yang mana telah mendapatkan laknat dari Allah SWT, bahwa sesungguhnya ada sekelompok dari mereka telah merubah kalimat-kalimat dari letaknya dan mereka mengganti kalam Allah SWT serta menghilangkannya dari yang dikehendaki-Nya, agar kalimat-kalimat tersebut menjadi sangkaan bagi orang-orang Yahudi yang bodoh sebagai bacaan dalam kitab Allah SWT. (Kitab Ibnu Katsir juz 1 – hal. 377)
3) Ada sekelompok dari ahlul kitab dari pada pendeta-pendeta mereka, ulama-ulama’ mereka dan pemimpin-pemimpin mereka, yaitu Ka’ab bin Asro, Malik bin Soyif, Huyayyi bin Akhtof dan lain-lainnya mereka memutarbalikkan lidah-lidah mereka dengan bacaan kitab-kitab mereka yang telah diturunkan di dalam kebenaran menjadi bacaan yang berubah dengan tambahan pada Kalam Allah. Atau pengurangan, perubahan makna atau bacaannya berupa syair-syair sehingga bisa menjadikan sangkaan atas manusia bahwasanya hal tersebut adalah termasuk dari kitab Taurat, dan mereka menyangka bahwasanya kitab tersebut yang telah dirubah dan termasuk kalam Allah padahal tidak dari sisi Allah SWT. Maka orang-orang tersebut adalah pendusta dengan perkataan mereka yang telah dikatakan dalam kitab yang telah mereka rubah tersebut. Maka sesungguhnya mereka mengaku-ngaku bahwa kitab tersebut dari sisi Allah SWT. (Kitab Tafsir Munir juz 3 – hal. 272)
QUR’AN VERSI SYI’AH
1) Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam masalah wilayah Ali ra dan imam-imam setelahnya maka sungguh dia beruntung dengan untung yang besar.
2) Wahai orang-orang yang telah diberikan kitab suci, berimanlah kalian dengan kitab yang Kami (Allah SWT) turunkan kepada Ali ra, dengan cahaya yang nyata.
3) Ada seorang bertanya tentang adzab yang pasti terjadi terhadap orang-orang kafir dengan wilayahnya Ali ra, maka tidak ada yang bisa menolak baginya (orang-orang kafir)
4) Maka menolak sebagian besar manusia dengan wilayahnya Ali ra kecuali karena kekufuran.
5) Sungguh telah kami jadikan kepada Adam dari sebelumnya akan kalimat-kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husien dan Imam-imam dari anak turun mereka, maka dia telah lalai.
29 April 2010 M
“AL QUR’ANUL KARIM”
1) Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka Berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui.” (QS. Al Imran ayat 78)
2) Allah SWT memberitahu tentang Yahudi yang mana telah mendapatkan laknat dari Allah SWT, bahwa sesungguhnya ada sekelompok dari mereka telah merubah kalimat-kalimat dari letaknya dan mereka mengganti kalam Allah SWT serta menghilangkannya dari yang dikehendaki-Nya, agar kalimat-kalimat tersebut menjadi sangkaan bagi orang-orang Yahudi yang bodoh sebagai bacaan dalam kitab Allah SWT. (Kitab Ibnu Katsir juz 1 – hal. 377)
3) Ada sekelompok dari ahlul kitab dari pada pendeta-pendeta mereka, ulama-ulama’ mereka dan pemimpin-pemimpin mereka, yaitu Ka’ab bin Asro, Malik bin Soyif, Huyayyi bin Akhtof dan lain-lainnya mereka memutarbalikkan lidah-lidah mereka dengan bacaan kitab-kitab mereka yang telah diturunkan di dalam kebenaran menjadi bacaan yang berubah dengan tambahan pada Kalam Allah. Atau pengurangan, perubahan makna atau bacaannya berupa syair-syair sehingga bisa menjadikan sangkaan atas manusia bahwasanya hal tersebut adalah termasuk dari kitab Taurat, dan mereka menyangka bahwasanya kitab tersebut yang telah dirubah dan termasuk kalam Allah padahal tidak dari sisi Allah SWT. Maka orang-orang tersebut adalah pendusta dengan perkataan mereka yang telah dikatakan dalam kitab yang telah mereka rubah tersebut. Maka sesungguhnya mereka mengaku-ngaku bahwa kitab tersebut dari sisi Allah SWT. (Kitab Tafsir Munir juz 3 – hal. 272)
QUR’AN VERSI SYI’AH
1) Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam masalah wilayah Ali ra dan imam-imam setelahnya maka sungguh dia beruntung dengan untung yang besar.
2) Wahai orang-orang yang telah diberikan kitab suci, berimanlah kalian dengan kitab yang Kami (Allah SWT) turunkan kepada Ali ra, dengan cahaya yang nyata.
3) Ada seorang bertanya tentang adzab yang pasti terjadi terhadap orang-orang kafir dengan wilayahnya Ali ra, maka tidak ada yang bisa menolak baginya (orang-orang kafir)
4) Maka menolak sebagian besar manusia dengan wilayahnya Ali ra kecuali karena kekufuran.
5) Sungguh telah kami jadikan kepada Adam dari sebelumnya akan kalimat-kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husien dan Imam-imam dari anak turun mereka, maka dia telah lalai.
Langganan:
Postingan (Atom)
MASJID AGUNG BANGIL
MASJID AGUNG BANGIL MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA SEMUA KALANGAN AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH